Berikut adalah material yang saya siapkan sebelum kegiatan ini dimulai :
Satu set piringan parabola, prime focus, Ø 115 cm. Di titik tengah parabola, kedalamannya adalah 18 cm.
C Band Low Noise Block Fedhorn (LNBF) yang fungsinya sebagai transverter dari input 3,4 – 4,2 GHz menj
adi output 0,95 – 1,75 GHz dengan bantuan Local Oscillator (LO) 5,15 GHz. Banyak orang menyebutnya sebagai Feedhorn atau LNB saja.
Kabel koaksial khusus 75 Ω penghubung dari LNBF ke Set-Top Box (STB) lengkap dengan jacknya.
Digital STB. Gunanya untuk menala sinyal keluaran LNBF, mendecode sinyal dan menghasilkan komponen audio + video yang siap diumpankan ke televisi. Saya menggunakan @Metabox I (http://www.metaware.co.kr) karena kualitas yang baik serta firmwarenya bisa diupdate dengan mudah. Di pasaran, banyak sekali STB ditawarkan, mulai dari kelas Free-to-Air Digital STB (menangkap siaran gratis seperti siaran televisi swasta nasional) sampai yang sanggup membuka Pay Television (siaran teracak, harus berlangganan misalnya siaran IndoVision).
Televisi yang memiliki RCA/AV Input (3 kabel: 1 video + 2 stereo audio). Bila Anda memiliki perangkat Home Theatre yang mendukung Dolby Prologic II, suara stereo yang diterima dapat dialihkan ke Home Theatre sehingga siaran yang dibuat dalam tata suara surround (biasanya film-film dengan label DTS, Dolby Surround atau THX) dapat disuarakan bak bioskop pribadi Smiley.
Setelah semua disiapkan, Anda harus mencatat data berikut:
Satelit yang akan kita tala. Demi kemudahan, mari kita tala satelit AsiaSat 3S yang berlokasi di 0,0o S 105,5o E. Informasi posisi, transponder dan channel terkini ada di http://sattracker.mrtian.com/chart
Posisi parabola kita (gunakan GPS untuk mengetahuinya). Dalam hal ini QTH saya adalah di 6,12o S 106,5o E. Jika kita telaah, ternyata posisi saya hanya berbeda 6,12o S 1,0o E dengan satelit AsiaSat 3S sehingga nanti “pucuk” parabolanya kira-kira akan mendongak ke atas langit Jakarta.
Menyiapkan Parabola
Letakkan parabola di bidang (tempat terbuka) tidak ada halangan ke langit bebas serta datar. Untuk menentukan kedatarannya, Anda bisa tuang air ke baskom. Bila air penuh tepat lurus di bibir baskom berarti bidang cukup datar terhadap bumi. Bila posisinya miring, gunakan papan yang diganjal untuk mendapatkan bidang yang datar.
Gambar 1: Menentukan datar tidaknya bidang peletakkan parabola
Buatlah garis vertikal dan horizontal pada parabola untuk membantu penentuan posisinya. Titik temu garis ini harus berada tepat di dasar parabola (gunakan gundu, tempat di mana gundu diam itulah titik dasar parabola). Setelah digaris, berikan penanda empat arah mata angin seperti gambar berikut:
Gambar 2: Menggambar arah mata angin di piringan parabola
Arahkan piringan parabola ke arah mata angin menggunakan kompas yang diletakkan di dasar parabola (yaitu titik pertemuan garis vertikal horizontal tadi). Atur agar keempat arah mata angin itu sesuai dengan yang ditunjukkan di kompas.
Gambar 3: Mengarahkan piringan ke arah mata angin. Sumbu S – N masih sedang diarahkan
Pasanglah LNBF pada bracket yang disediakan LNBF pada parabola. Untuk menentukan tinggi bracket yang tepat, gunakan rumus berikut:
Gambar 4: Menentukan posisi tinggi bracket dari dasar antena
Pada badan LNBF ada angka-angka 0,42 sampai 0,30. Angka itu disebut f/D, didapat dengan membagi 45,9 cm / 115 cm = 0,40. Pasanglah LNBF tepat di posisi f/D 0,40
Gambar 5: Mengatur posisi f/D LNBF di 0,40
Pada kepala LNBF ada angka-angka -30o, 0o dan +30o. Angka itu mengatur arah polarisasi antena dalam LNBF. Aturlah garis 0o tepat ke arah W, yang berarti juga searah garis W pada piringan parabola. Tanpa mengubah posisi f/D, kencangkan mur pengunci pada posisi yang pas.
Gambar 6: Mengatur polarisasi antena dalam LNBF
Karena saya berada di 6,12o S, yaitu 6,12o di bawah garis katulistiwa maka saya harus mendongakkan piringan parabola sebanyak 6,12o di sumbu N agar posisi antena tepat mengarah ke atas katulistiwa. Karena Ø parabola 115 cm, maka dengan menghitung SIN 6,12o x 115 cm didapat 12 cm (ingatlah rumus trigonometri Sine, Cosine dan Tangent. Gunakan scientific calculator untuk memudahkan perhitungan). Yang kita lakukan ini disebut dengan mengatur “deklinasi”.
Gambar 7: Mengatur deklinasi
Karena saya berada di 106,5o E sementara satelit berada di 105,5o E berarti saya harus menurunkan posisi piringan sebesar 1,0o di sumbu W. Karena Ø parabola 115 cm, maka dengan menghitung SIN 1,0o x 115 cm didapat 2 cm. Yang kita lakukan ini adalah mengarahkan piringan parabola tepat pada orbit satelitnya. Karena hanya coba-coba, saya berikan beban tertentu ke sumbu W, diganjal di bawah sedemikian rupa sehingga piringan parabola turun tepat sebanyak 2 cm di sumbu W.
Gambar 8: Menyesuaikan piringan ke arah ke orbit satelit AsiaSat 3S
Gambar 9: Hasil akhir pemasangan parabola
Selesailah kita mengatur antena parabola. Kita akan mengatur STB. Karena pengaturan tiap merk STB berbeda-beda, gambar yang ditampilkan hanyalah sekadar acuan belaka. Pertama, masukkan konfigurasi antena pada STB, dan akhiri dengan mencari transponder serta channel yang disediakan pada satelit tersebut (otomatis ada pada STB masing-masing):
a. Satellite: AsiaSat 3S;
b. LNB Type: Standard (Frequency 5,150 MHz);
c. 22 KHz: Off;
d. Polarity: Auto.
Gambar 10: Mengatur konfigurasi antena
Jika Anda tidak dapat menemukan transponder atau channel — masukkan secara manual data salah satu TV, misalnya TV 5 ASIE:
a. Frequency: 3.670 GHz;
b. Polarity: HORIZONTAL (H);
c. Symbol Rate: 26,000 symbols/second;
d. FEC: 7/8;
e. Name: TV 5 ASIE;
f. Video PID: 1120;
g. Audio PID: 1121;
h. PCR PID: 1120.
Jika Anda menemukan beberapa channel TV secara otomatis melalui fasilitas
Search di STB — pilihlah satu channel misalnya TV 5 ASIE.
Gambar 11: Kekuatan sinyal yang diterima
Kemudian, aturlah agar sinyal diterima sebesar mungkin dengan mengkoreksi kedudukan piringan parabola. Pada gambar di atas, kekuatan sinyal yang semula hanya 20% setelah dikoreksi menjadi 73%, kualitas tetap 85% tetapi warnanya sudah hijau artinya sudah cukup stabil menerima sinyal. Pada STB yang saya miliki, gambar akan tampak baik bila sinyal ada di atas 60%, kualitas di atas 80% dan bar persentase menunjukkan warna hijau (bisa berbeda di tiap STB).
Setelah sepuluh langkah ini selesai dilalui, kita bisa mengulang pencarian transponder serta channel lain agar seluruh siaran bisa ditangkap. Ada 55 siaran TV gratis + 26 siaran radio gratis yang saya bisa nikmati (di luar siaran teracak yang jumlahnya mendekati 100). Setelah itu siaplah kita menikmati siaran dari luar negeri melalui satelit AsiaSat 3S dengan kualitas video tanpa cacat serta suara stereo yang membahana.
Gambar 12: Beberapa channel yang bisa ditangkap. Gambar di sini kurang cerah karena kamera digital memfoto langsung layar televisi
Sangat puas bisa menemukan posisi satelit secara mandiri, biar pun sinyal yang diterima pas-pasan tetapi karena mencari dengan usaha sendiri, ada ilmu berharga yang bisa kita serap. Tantangan ke depannya adalah bagaimana mencari satelit untuk TVRO lainnya seperti Palapa C2, Panamsat 7 + 10, ST 1, Thaicom23, Apstar 2R, AsiaSat 2 serta Telkom 1. Mengganti C Band LNBF dengan antena receiver/transverter band amatir radio adalah hal yang mudah setelah Anda tahu posisi satelitnya berada di mana. Antena transmitter untuk komunikasi dua arah dengan satelit biasanya Yagi; tentunya mudah ditentukan arahnya dengan bantuan referensi posisi piringan parabola kita.
sumber :
Rabu, 18 November 2009
Internet Broadband Satellite
Internet Broadband Satellite
Broadband adalah salah satu jenis koneksi internet berkecepatan tinggi (high speed internet access) dengan menggunakan akses satellite. Broadband dibagi menjadi 2 jenis, yaitu DSL & ADSL.
1. DSL - Digital Subscriber Line adalah tipe modem yang ditugaskan untuk Basic Rate ISDN yang merupakan konfigurasi dari modem dan saluran. Pada performansi puncak, modem jenis ini dapat mentransmisikan data dalam dua arah secara simultan (data duplex). Perangkat ini sama dengan perangkat yang ada pada ISP - Internet Service Provider. Yang jelas mahal sekali. Jadi dalam tulisan ini tidak dibahas!
2. ADSL - Asymmetric Digital Subscriber Line merupakan salah satu jenis Broadband yang paling murah dan berkecepatan sangat tinggi. Untuk melakukan pengiriman sinyal (upstream) bisa dengan kecepatan 512 kbps, dan untuk menerima respon [downstream] bisa mencapai 8 Mbps. Kali ini kita akan membahas salah satu keluarga dari ADSL, yaitu: “One Way Satellite” [satellite satu arah]. Koneksi jenis ini disebut Asymetric [tidak seimbang] karena downstream yang dihasilkan jauh lebih besar dibanding upstream yang kita request. Pada prinsipnya kedua teknologi di atas sama, yang membedakan hanyalah layanan yang diberikan serta perangkat keras yang digunakan.
Perangkat yang akan saya bahas ini tidak jauh berbeda dengan perangkat di rumah-rumah yang menggunakan parabola biasa dipakai untuk menonton televisi siaran-siaran luar negeri. Hanya dengan bermodal kurang lebih Rp.1.500.000,- buat pembelian parabolanya dan DVB-nya sudah cukup! Percayalah, dunia akan berada di tangan anda!
Skema Downstream - Upstreamimages01
Ilustrasi Broadband One Way Satellite, menggunakan Dual Connection. Upstream & Downstream secara terpisah. Upstream 56KBps (Dial-Up) & Downstream 2MBps (Satellite).
Catatan: Reciever yang digunakan pada lab ccard saat ini adalah reciever internal, yaitu PCI DVB CARD VisionPlus.
Sekarang kita akan bahas sistem kerja ADSL dan bagaimana cara mensetup-nya. Disini saya tidak akan mengajarkan bagaimana cara untuk mendapatkan aksesnya secara gratis. Semua itu tergantung dan berpulang pada hasil kreasi serta inovasi Anda sendiri. Untuk koneksi jenis ini kita memerlukan system dan perangkat sebagai berikut.
Basic system requirement:
Pentium 120MHz IBM PC
32MB RAM
2MB VGA card
Windows 95/98SE, NT atau 2000, Linux
PCI slot, sound card dan speakers
30MB Hard Disk Space
DVB receiver card atau USB box
Koneksi Internet ke ISP (Dial-up | ISDN | Dedicated Line dan lain-lain.)
Minimum Modem 28.8 kbps
PPTP account (umumnya di dapat dari penyedia jasa Broadband)
images02Sedangkan dari sisi hardware lainnya yang dibutuhkan adalah Satellite Dish berdiameter minimum 1.8 M. Ukuran tergantung lokasi. Jika yang solid gunakan ukuran 6 feet, namun untuk dish non-solid sebaiknya pakai ukuran minimum 9 feet.
images03LNB (Digital Loop C-Band LNB). LNB jenis C-Band ini adalah LNB yang paling umum di gunakan dirumah-rumah untuk menangkap siaran televisi luar negeri.
images04Kabel Coaxial, RG 11 atau RG 6
images05Konektor type F
images06PCI DVB Card [DVB card yang lumayan bagus adalah merek KiSS. Kalau ingin menghemat biaya dapat menggunakan yang lebih murah seperti VisionPlus]
Instalasi:
Untuk pemasangan parabola jika Anda awam saya sarankan sebaiknya meminta bantuan ahlinya. Hubungi ahli yang terdekat. Untuk jasa pemasangan unit parabola harganya sangat relatif. Anda bisa melakukan negosiasi untuk hal ini. Tarif yang umum berkisar Rp.100.000,- hingga Rp.150.000,-.
Pada saat negosiasi Anda minta si tukang parabola tersebut untuk men-setup arah dish ke satellite Asiasat-4 (122.0 derajat timur, Frequensi 4120, polarisasinya Horizontal, bitratenya 27.500, vitebri rate 3/4 ). Untuk lebih jelas mengenai Asiasat-4 Anda bisa membacanya di: http://www.lyngsat.com/asia4.html. Bila Anda ingin mencoba mengkalkulasikan posisi yang lebih akurat, silahkan coba di sini, http://www.asiasat.com/eng/05_technical/calculation.html
One Way Satellite
Bila semuanya telah siap dan terpasang sempurna, Anda harus terlebih dulu tahu satellite mana yang akan digunakan. Anda harus bisa memastikan bahwa satellite yang akan digunakan memang menyediakan fasilitas transfer data.
Bagaimana caranya menentukan satellite mana yang ingin kita gunakan dan bagaimana caranya agar kita tahu bahwa satellite tersebut memiliki fasilitas data transfer?
Caranya adalah sebagai berikut :
Silahkan download dulu software SatcoDX yg terbaru! Anda dapat mencarinya di alamat berikut http://www.satcodx.info/Setup.exe. Bila link tersebut sudah berubah Anda bisa menggunakan google untuk mencarinya. Jika Anda telah berhasil mendownloadnya segeralah menginstallnya. Kalau pada saat installasi program tersebut meminta kode aktivasi atau password, masukkan kode berikut [tanpa tanda kutip] : “837E183A8F792DB5DB6987DE74B8CA5B”.
Lakukan installasi hingga selesai. Kemudian klik Database Update. Proses update sangat penting untuk mendapatkan data-data satellite yang terbaru. Untuk menentukan koordinat lokasi Anda kliklah icon dengan gambar petir berwarna kuning di sebelah kiri atas. Ketika lokasi ditentukan nanti program SatcoDX tersebut akan menampilkan listing atau daftar nama-nama satellite yang dapat di akses dari koordinat Anda.
Dari listing yang ditampilkan program SatcoDX itu Anda akan paham beberapa hal, diantaranya :
a. Nama-nama satellite. Dengan mengetahui nama satellite Anda dapat melihat deskripsi dari satellite yang bersangkutan
b. Siaran TV dari tiap-tiap satellite. Termasuk keterangan apakah channel tersebut FreeTV [non comercial yang tidak diacak signalnya] ataukah PayTV [diacak], jenis encryption dari tiap-tiap channel PayTV kadang berbeda bentuknya.
c. Posisi satellite. Sangat penting Anda ketahui untuk mengeset arah parabola jadi lebih mudah.
d. Frekwensi satellite. Digunakan untuk menentukan jenis LNB yang akan kita gunakan. Contoh: C-Band atau KU-Band.
e. Jenis transmisi. Bagian ini digunakan untuk mengetahui satellite mana saja yang menyediakan transmisi data [data transfer untuk internet].
Beberapa Langkah Mencari Satellite Target Menggunakan SatcoDX
Software SatcoDXimages07
Pada tampilan awal, di sebelah kiri atas klik angka 4 yang tertera pada Map. Nomor 4 adalah zona Indonesia yang merepresentasikan listing satellite yg bisa dijangkau di Indonesia.
Setelah itu kita pilih Asiasat 4 pada daftar satellite untuk melihat posisinya. Di satellite Asiasat 4 ini silahkan Anda coba mencari sinyal transmisi dari “Speedcast” [speedcast adalah sebuah brand dari broadband satellite ADSL milik isatAsia.com yg akan Anda searching]
Lihat gambar cara menentukan lokasi akses dan menampilkan seluruh satellite yang berada dalam jangkauan.
Klik tombol “Show Selected Satellite” di sebelah kanan.
Dan dalam sekejap maka akan tampil listing satellite pada Zona 4 seperti tampak pada gambar dibawah ini.
Seluruh satellite yang berada dlm jangkauan.images08
Pada gambar diatas tampak daftar sinyal dari Satellite Asiasat 4. Warna kuning merepresentasikan sinyal berupa data visual [Siaran Televisi Broadcast], warna hijau adalah sinyal berupa data yang kali ini akan Anda gunakan sebagai transmisi broadband ADSL.
Mengenal Istilah Dalam Tabel Chart SatcoDX
- Position Code and Satellite atau kode satellite dan posisi orbitnya.
- Type yaitu macam-macam tipe transmisi, di antaranya :
NON-PACKAGE
a. TV-DIG - sinyal televisi digital
b. TV-DIG-CRYPT - sinyal televisi digital ter-enkripsi
c. TV-HD - digital high definition television signal
d. TV-HD-CRYPT - encrypted digital high definition television signal
e. TV-ANA - sinyal televisi analog
f. TV-ANA-CRYPT - sinyal televisi analog ter-enkripsi
PACKAGE
a. DATA - data signal [ inilah yang akan Anda gunakan untuk broadband ]
b. R-DIG - sinyal radio digital
c. R-DIG-CRYPT - sinyal radio digital ter-enkripsi
d. R-ANA - sinyal radio analog
e. R-ANA-CRYPT - sinyal radio analog ter-enkripsi
- Ch No: adalah nomer channel yg diberikan oleh operator satellite
- Frequency: Downlink Frekwensi
- Pol: Tipe Polarisasi
H - horizontal
V - vertical
L - left circular
R - right circular
- Channel Name: Nama Channel
- Coverage: Untuk melihat apakah sinyal dari satellite yg ingin kita terima transmisinya dpt menjangkau daerah kita.
- Mode: Mode transmisi
- Crypt: Jenis Enkripsi [perlu diperhatikan! karena informasi ini akan kita perlukan untuk membuka enkripsinya]
- Audio/TT: Audio Subcarrier Frequency [hanya untuk transmisi analog]
- SR: Symbol Rate, dalam mega-symbols per detik
- FEC: Forward Error Correction
- V-Pid: Video Program Identification
- A-Pid: Audio Program Identification
- PCR 4DTV: Proprietary Channel Indicator
- SID: Service Identification
- TID: Transponder Identification
- NID: Network Identification
- Main Language: Bahasa pokok yang digunakan
- Country : Negara
- Original Name
- Programming Type
- Time Stamp: Menunjukkan apakah channel ini telah ditambahkan ke dlm database
- Contributor: -
- Confirmation: -
- Comments: -
- Transmission Number:
Registrasi
Posisi satellite Asiasat 2s atau Asiasat 4 telah siap Anda gunakan. Tapi bagaimana supaya Anda bisa terkoneksi ke internet? Setelah sampai di sini Anda bisa membuka salah satu situs penyedia layanan untuk akses data broadband seperti www.isatasia.com. Anda bisa memilih jenis layanan “One Way Satellite” untuk memulai registrasi di situs terkait.
Di halaman depan akan muncul beberapa opsi atau pilihan, yaitu layanan SkyBurst dan SkyBlast. Perbedaan antara kedua layanan ini adalah dalam kecepatan transmisi data downstream yang akan dialokasikan untuk Anda. Untuk SkyBurst transmisi maximum untuk downstream adalah sekitar 512 KBps, sementara SkyBlast bisa mencapai 1 MBps. Namun semuanya tergantung pada kemampuan maksimal DVB Anda untuk menerima transmisi data tersebut.
Setelah Anda menentukan jenis paket mana yang dipilih dan melakukan registrasi. Kemudian download-lah software client-servernya. Setiap penyedia jasa one way satellite seperti isatasia ini pasti punya satu aplikasi client server untuk menghubungkan account Anda dengan database mereka.
Broadband adalah salah satu jenis koneksi internet berkecepatan tinggi (high speed internet access) dengan menggunakan akses satellite. Broadband dibagi menjadi 2 jenis, yaitu DSL & ADSL.
1. DSL - Digital Subscriber Line adalah tipe modem yang ditugaskan untuk Basic Rate ISDN yang merupakan konfigurasi dari modem dan saluran. Pada performansi puncak, modem jenis ini dapat mentransmisikan data dalam dua arah secara simultan (data duplex). Perangkat ini sama dengan perangkat yang ada pada ISP - Internet Service Provider. Yang jelas mahal sekali. Jadi dalam tulisan ini tidak dibahas!
2. ADSL - Asymmetric Digital Subscriber Line merupakan salah satu jenis Broadband yang paling murah dan berkecepatan sangat tinggi. Untuk melakukan pengiriman sinyal (upstream) bisa dengan kecepatan 512 kbps, dan untuk menerima respon [downstream] bisa mencapai 8 Mbps. Kali ini kita akan membahas salah satu keluarga dari ADSL, yaitu: “One Way Satellite” [satellite satu arah]. Koneksi jenis ini disebut Asymetric [tidak seimbang] karena downstream yang dihasilkan jauh lebih besar dibanding upstream yang kita request. Pada prinsipnya kedua teknologi di atas sama, yang membedakan hanyalah layanan yang diberikan serta perangkat keras yang digunakan.
Perangkat yang akan saya bahas ini tidak jauh berbeda dengan perangkat di rumah-rumah yang menggunakan parabola biasa dipakai untuk menonton televisi siaran-siaran luar negeri. Hanya dengan bermodal kurang lebih Rp.1.500.000,- buat pembelian parabolanya dan DVB-nya sudah cukup! Percayalah, dunia akan berada di tangan anda!
Skema Downstream - Upstreamimages01
Ilustrasi Broadband One Way Satellite, menggunakan Dual Connection. Upstream & Downstream secara terpisah. Upstream 56KBps (Dial-Up) & Downstream 2MBps (Satellite).
Catatan: Reciever yang digunakan pada lab ccard saat ini adalah reciever internal, yaitu PCI DVB CARD VisionPlus.
Sekarang kita akan bahas sistem kerja ADSL dan bagaimana cara mensetup-nya. Disini saya tidak akan mengajarkan bagaimana cara untuk mendapatkan aksesnya secara gratis. Semua itu tergantung dan berpulang pada hasil kreasi serta inovasi Anda sendiri. Untuk koneksi jenis ini kita memerlukan system dan perangkat sebagai berikut.
Basic system requirement:
Pentium 120MHz IBM PC
32MB RAM
2MB VGA card
Windows 95/98SE, NT atau 2000, Linux
PCI slot, sound card dan speakers
30MB Hard Disk Space
DVB receiver card atau USB box
Koneksi Internet ke ISP (Dial-up | ISDN | Dedicated Line dan lain-lain.)
Minimum Modem 28.8 kbps
PPTP account (umumnya di dapat dari penyedia jasa Broadband)
images02Sedangkan dari sisi hardware lainnya yang dibutuhkan adalah Satellite Dish berdiameter minimum 1.8 M. Ukuran tergantung lokasi. Jika yang solid gunakan ukuran 6 feet, namun untuk dish non-solid sebaiknya pakai ukuran minimum 9 feet.
images03LNB (Digital Loop C-Band LNB). LNB jenis C-Band ini adalah LNB yang paling umum di gunakan dirumah-rumah untuk menangkap siaran televisi luar negeri.
images04Kabel Coaxial, RG 11 atau RG 6
images05Konektor type F
images06PCI DVB Card [DVB card yang lumayan bagus adalah merek KiSS. Kalau ingin menghemat biaya dapat menggunakan yang lebih murah seperti VisionPlus]
Instalasi:
Untuk pemasangan parabola jika Anda awam saya sarankan sebaiknya meminta bantuan ahlinya. Hubungi ahli yang terdekat. Untuk jasa pemasangan unit parabola harganya sangat relatif. Anda bisa melakukan negosiasi untuk hal ini. Tarif yang umum berkisar Rp.100.000,- hingga Rp.150.000,-.
Pada saat negosiasi Anda minta si tukang parabola tersebut untuk men-setup arah dish ke satellite Asiasat-4 (122.0 derajat timur, Frequensi 4120, polarisasinya Horizontal, bitratenya 27.500, vitebri rate 3/4 ). Untuk lebih jelas mengenai Asiasat-4 Anda bisa membacanya di: http://www.lyngsat.com/asia4.html. Bila Anda ingin mencoba mengkalkulasikan posisi yang lebih akurat, silahkan coba di sini, http://www.asiasat.com/eng/05_technical/calculation.html
One Way Satellite
Bila semuanya telah siap dan terpasang sempurna, Anda harus terlebih dulu tahu satellite mana yang akan digunakan. Anda harus bisa memastikan bahwa satellite yang akan digunakan memang menyediakan fasilitas transfer data.
Bagaimana caranya menentukan satellite mana yang ingin kita gunakan dan bagaimana caranya agar kita tahu bahwa satellite tersebut memiliki fasilitas data transfer?
Caranya adalah sebagai berikut :
Silahkan download dulu software SatcoDX yg terbaru! Anda dapat mencarinya di alamat berikut http://www.satcodx.info/Setup.exe. Bila link tersebut sudah berubah Anda bisa menggunakan google untuk mencarinya. Jika Anda telah berhasil mendownloadnya segeralah menginstallnya. Kalau pada saat installasi program tersebut meminta kode aktivasi atau password, masukkan kode berikut [tanpa tanda kutip] : “837E183A8F792DB5DB6987DE74B8CA5B”.
Lakukan installasi hingga selesai. Kemudian klik Database Update. Proses update sangat penting untuk mendapatkan data-data satellite yang terbaru. Untuk menentukan koordinat lokasi Anda kliklah icon dengan gambar petir berwarna kuning di sebelah kiri atas. Ketika lokasi ditentukan nanti program SatcoDX tersebut akan menampilkan listing atau daftar nama-nama satellite yang dapat di akses dari koordinat Anda.
Dari listing yang ditampilkan program SatcoDX itu Anda akan paham beberapa hal, diantaranya :
a. Nama-nama satellite. Dengan mengetahui nama satellite Anda dapat melihat deskripsi dari satellite yang bersangkutan
b. Siaran TV dari tiap-tiap satellite. Termasuk keterangan apakah channel tersebut FreeTV [non comercial yang tidak diacak signalnya] ataukah PayTV [diacak], jenis encryption dari tiap-tiap channel PayTV kadang berbeda bentuknya.
c. Posisi satellite. Sangat penting Anda ketahui untuk mengeset arah parabola jadi lebih mudah.
d. Frekwensi satellite. Digunakan untuk menentukan jenis LNB yang akan kita gunakan. Contoh: C-Band atau KU-Band.
e. Jenis transmisi. Bagian ini digunakan untuk mengetahui satellite mana saja yang menyediakan transmisi data [data transfer untuk internet].
Beberapa Langkah Mencari Satellite Target Menggunakan SatcoDX
Software SatcoDXimages07
Pada tampilan awal, di sebelah kiri atas klik angka 4 yang tertera pada Map. Nomor 4 adalah zona Indonesia yang merepresentasikan listing satellite yg bisa dijangkau di Indonesia.
Setelah itu kita pilih Asiasat 4 pada daftar satellite untuk melihat posisinya. Di satellite Asiasat 4 ini silahkan Anda coba mencari sinyal transmisi dari “Speedcast” [speedcast adalah sebuah brand dari broadband satellite ADSL milik isatAsia.com yg akan Anda searching]
Lihat gambar cara menentukan lokasi akses dan menampilkan seluruh satellite yang berada dalam jangkauan.
Klik tombol “Show Selected Satellite” di sebelah kanan.
Dan dalam sekejap maka akan tampil listing satellite pada Zona 4 seperti tampak pada gambar dibawah ini.
Seluruh satellite yang berada dlm jangkauan.images08
Pada gambar diatas tampak daftar sinyal dari Satellite Asiasat 4. Warna kuning merepresentasikan sinyal berupa data visual [Siaran Televisi Broadcast], warna hijau adalah sinyal berupa data yang kali ini akan Anda gunakan sebagai transmisi broadband ADSL.
Mengenal Istilah Dalam Tabel Chart SatcoDX
- Position Code and Satellite atau kode satellite dan posisi orbitnya.
- Type yaitu macam-macam tipe transmisi, di antaranya :
NON-PACKAGE
a. TV-DIG - sinyal televisi digital
b. TV-DIG-CRYPT - sinyal televisi digital ter-enkripsi
c. TV-HD - digital high definition television signal
d. TV-HD-CRYPT - encrypted digital high definition television signal
e. TV-ANA - sinyal televisi analog
f. TV-ANA-CRYPT - sinyal televisi analog ter-enkripsi
PACKAGE
a. DATA - data signal [ inilah yang akan Anda gunakan untuk broadband ]
b. R-DIG - sinyal radio digital
c. R-DIG-CRYPT - sinyal radio digital ter-enkripsi
d. R-ANA - sinyal radio analog
e. R-ANA-CRYPT - sinyal radio analog ter-enkripsi
- Ch No: adalah nomer channel yg diberikan oleh operator satellite
- Frequency: Downlink Frekwensi
- Pol: Tipe Polarisasi
H - horizontal
V - vertical
L - left circular
R - right circular
- Channel Name: Nama Channel
- Coverage: Untuk melihat apakah sinyal dari satellite yg ingin kita terima transmisinya dpt menjangkau daerah kita.
- Mode: Mode transmisi
- Crypt: Jenis Enkripsi [perlu diperhatikan! karena informasi ini akan kita perlukan untuk membuka enkripsinya]
- Audio/TT: Audio Subcarrier Frequency [hanya untuk transmisi analog]
- SR: Symbol Rate, dalam mega-symbols per detik
- FEC: Forward Error Correction
- V-Pid: Video Program Identification
- A-Pid: Audio Program Identification
- PCR 4DTV: Proprietary Channel Indicator
- SID: Service Identification
- TID: Transponder Identification
- NID: Network Identification
- Main Language: Bahasa pokok yang digunakan
- Country : Negara
- Original Name
- Programming Type
- Time Stamp: Menunjukkan apakah channel ini telah ditambahkan ke dlm database
- Contributor: -
- Confirmation: -
- Comments: -
- Transmission Number:
Registrasi
Posisi satellite Asiasat 2s atau Asiasat 4 telah siap Anda gunakan. Tapi bagaimana supaya Anda bisa terkoneksi ke internet? Setelah sampai di sini Anda bisa membuka salah satu situs penyedia layanan untuk akses data broadband seperti www.isatasia.com. Anda bisa memilih jenis layanan “One Way Satellite” untuk memulai registrasi di situs terkait.
Di halaman depan akan muncul beberapa opsi atau pilihan, yaitu layanan SkyBurst dan SkyBlast. Perbedaan antara kedua layanan ini adalah dalam kecepatan transmisi data downstream yang akan dialokasikan untuk Anda. Untuk SkyBurst transmisi maximum untuk downstream adalah sekitar 512 KBps, sementara SkyBlast bisa mencapai 1 MBps. Namun semuanya tergantung pada kemampuan maksimal DVB Anda untuk menerima transmisi data tersebut.
Setelah Anda menentukan jenis paket mana yang dipilih dan melakukan registrasi. Kemudian download-lah software client-servernya. Setiap penyedia jasa one way satellite seperti isatasia ini pasti punya satu aplikasi client server untuk menghubungkan account Anda dengan database mereka.
Internet Melalui Teknologi TV Parabola......!
Internet Melalui Teknologi TV Parabola......!
Selama ini kita hanya melihat TV dari berbagai macam Stasiun TV swasta maupun TVRI. Juga TV luar negeri melalui melalui parabola yang menerima siaran TV luar negeri melalui Satelit.
Pernahkah Anda mendengar Internet melalui teknologi TV? Terima kasih sebenarnya kita sampaikan kepada penemuan Digital TV atau DVB (Digital Video Broadcasting).
Mekanismenya dapat dilihat melalui gambar berikut ini:
Teknologi ini memang hanya dapat menerima saja (downstream) karena DVB yang berformat digital dapat dilalui paket data internet yang berformat TCP/IP.
Untuk upstream internetnya harus disediakan oleh ISP lokal baik melalui media wireless ataupun cable.
Referensi untuk teknologi ini dapat diakses melalui:
" Digital Video Broadcasting is harmonized digital TV that covers all media (satellite, cable and terrestrial). It supports Internet services at speed up to 6 Mbps and can be used on mobile devices. www.3gnewsroom.com/html/glossary/d.shtml "
Peralatan yang dibutuhkan
Untuk terselenggaranya Internet melalui teknologi ini, perangkat yang dibutuhkan adalah:
1. Antenna Parabola TV
2. DVB Card
3. LNB
Berikut keterangan-nya:
1. Antenna Parabola:
Merupakan antenna parabola TV yang biasa kita lihat sehari hari pada rumah-rumah penduduk yang menggunakan parabola TV untuk melihat TV luar negeri dari satelit.
2. DVB Card
Merupakan card slot PCI yang dapat dipasang pada komputer pada slot PCI yang tersedia.
3. LNB:
LNB biasanya terpasang pada ujung antenna parabola dan hal ini merupakan yang terpenting. Merk Norsat merupakan standard industri dalam teknologi DVB ini. Norsat 8215 Digital, 15 Kelvin.
Norsat products are engineered to be DVB-compliant. Silakan Anda lihat pada alamat www.norsat.com/industry/glossary.htm .
Topologi Jaringan
Dari keterangan di atas akan dapat dikembangkan menjadi sebuah topologi internet yang lebih lengkap sebagai berikut:
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa akses internet downstream didapat melalui satelit dan DVB Router PC. Komputer yang dianjurkan hanyalah Pentium 2 dengan RAM minimal 128 MB. Anda juga bisa meng-install linux dan driver DVB-nya.
Upstream akan di sediakan oleh ISP lokal, baik melalui teknologi wireless ataupun cable.
Hal ini akan menyebabkan efektifitas biaya karena pada umumnya kebutuhan downstream lebih besar daripada upstream.
Upstream digunakan hanya untuk request http, ftp, dan smtp email. Sedangkan downstream dibutuhkan oleh akses browsing, gambar, video dan lain sebagainya.
Biasanya kebutuhan upstream berbanding downstream adalah 1:4.
Artinya jika downstream 1 Mbps maka upstream dibutuhkan hanya sekitar 256 Kbps.
Hal hal yang perlu diperhatikan
Agar sistem ini dapat berjalan dengan baik maka hal yang perlu diperhatikan adalah pembukaan open filter IP pada upstream provider. Artinya ISP lokal yang melayani upstream harus memperbolehkan IP (Internet Protocol) dari akses downstream melewati jaringan mereka (router mereka) . Sebagai contoh IP dari Hawaii Pasific Teleport http://www.hawaiiteleport.com/ 216.236.100.0/24 harus di open filter di router ISP lokal yang melayani upstream sehingga sistem ini dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Semoga Bermafaat. Bro...
Selama ini kita hanya melihat TV dari berbagai macam Stasiun TV swasta maupun TVRI. Juga TV luar negeri melalui melalui parabola yang menerima siaran TV luar negeri melalui Satelit.
Pernahkah Anda mendengar Internet melalui teknologi TV? Terima kasih sebenarnya kita sampaikan kepada penemuan Digital TV atau DVB (Digital Video Broadcasting).
Mekanismenya dapat dilihat melalui gambar berikut ini:
Teknologi ini memang hanya dapat menerima saja (downstream) karena DVB yang berformat digital dapat dilalui paket data internet yang berformat TCP/IP.
Untuk upstream internetnya harus disediakan oleh ISP lokal baik melalui media wireless ataupun cable.
Referensi untuk teknologi ini dapat diakses melalui:
" Digital Video Broadcasting is harmonized digital TV that covers all media (satellite, cable and terrestrial). It supports Internet services at speed up to 6 Mbps and can be used on mobile devices. www.3gnewsroom.com/html/glossary/d.shtml "
Peralatan yang dibutuhkan
Untuk terselenggaranya Internet melalui teknologi ini, perangkat yang dibutuhkan adalah:
1. Antenna Parabola TV
2. DVB Card
3. LNB
Berikut keterangan-nya:
1. Antenna Parabola:
Merupakan antenna parabola TV yang biasa kita lihat sehari hari pada rumah-rumah penduduk yang menggunakan parabola TV untuk melihat TV luar negeri dari satelit.
2. DVB Card
Merupakan card slot PCI yang dapat dipasang pada komputer pada slot PCI yang tersedia.
3. LNB:
LNB biasanya terpasang pada ujung antenna parabola dan hal ini merupakan yang terpenting. Merk Norsat merupakan standard industri dalam teknologi DVB ini. Norsat 8215 Digital, 15 Kelvin.
Norsat products are engineered to be DVB-compliant. Silakan Anda lihat pada alamat www.norsat.com/industry/glossary.htm .
Topologi Jaringan
Dari keterangan di atas akan dapat dikembangkan menjadi sebuah topologi internet yang lebih lengkap sebagai berikut:
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa akses internet downstream didapat melalui satelit dan DVB Router PC. Komputer yang dianjurkan hanyalah Pentium 2 dengan RAM minimal 128 MB. Anda juga bisa meng-install linux dan driver DVB-nya.
Upstream akan di sediakan oleh ISP lokal, baik melalui teknologi wireless ataupun cable.
Hal ini akan menyebabkan efektifitas biaya karena pada umumnya kebutuhan downstream lebih besar daripada upstream.
Upstream digunakan hanya untuk request http, ftp, dan smtp email. Sedangkan downstream dibutuhkan oleh akses browsing, gambar, video dan lain sebagainya.
Biasanya kebutuhan upstream berbanding downstream adalah 1:4.
Artinya jika downstream 1 Mbps maka upstream dibutuhkan hanya sekitar 256 Kbps.
Hal hal yang perlu diperhatikan
Agar sistem ini dapat berjalan dengan baik maka hal yang perlu diperhatikan adalah pembukaan open filter IP pada upstream provider. Artinya ISP lokal yang melayani upstream harus memperbolehkan IP (Internet Protocol) dari akses downstream melewati jaringan mereka (router mereka) . Sebagai contoh IP dari Hawaii Pasific Teleport http://www.hawaiiteleport.com/ 216.236.100.0/24 harus di open filter di router ISP lokal yang melayani upstream sehingga sistem ini dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Semoga Bermafaat. Bro...
Daftar Istilah Dalam Audio
Daftar Istilah Dalam Audio
Berikut ini beberapa istilah di dunia per Audio-an yang mungkin pernah didengar tetapi belum paham apa maksud dari istilah-istilah tersebut. Dengan memahami istilah-istilah Audio maka Anda akan lebih mudah untuk mengerti dalam membaca spesifikasi produk Audio.
* AC, lihat Arus Bolak-Balik (Alternating Current)
* Amper, Besarnya arus listrik seperti yang dinyatakan dalam Amper. Unit pengukuran untuk arus listrik yang mengalir melalui sirkuit. Disingkat: amp.
* Amplifier, Piranti yang menambah besarnya Voltase, arus atau Daya dalam sistem elektronik. Dalam sistem audio, Preamplifier dan Prosesor Sekeliling meningkatkan Voltase. Amplifier Daya meningkatkan Voltase dan arus, oleh sebab itu tersedia keluaran Daya yang lebih besar untuk menggerakkan Pengeras Suara.
* Amplifikasi, Kenaikan dalam tingkat sinyal.
* Analog, Sinyal listrik yang bentuk Gelombang (atau arus) voltasenya sama seperti Gelombang Suara Akustik asli. Lihat juga Digital
* Audio MPEG, MPEG-1 adalah algoritma Penyandian Perseptual untuk dua Kanal audio. MPEG-2 mewujudkan audio Multi-kanal. Lihat: Penyandian Perseptual
* Bandwidth, Perbedaan antara batas Frekuensi penggunaan atas dan bawah dari satu sirkuit, piranti atau Kanal komunikasi (radio, TV atau transmisi data digital).
* Bas, Sinyal audio Frekuensi rendah. Frekuensi kira-kira di bawah 300Hz.
* Bicara-Silang, Bunyi Suara yang tidak diinginkan dari satu Kanal yang bocor ke Kanal lainnya.
* CD, CD = Compact Disc. Suatu format cakram (disc) optik untuk menyimpan sinyal Digital, yang dikembangkan secara gabungan oleh Sony dan Philips.
* CD-DA, CD-DA = Compact Disc Digital Audio, format penyimpanan musik Digital PCM yang asli, yang ditentukan oleh standar Red Book [Buku Merah].
* CD-R, Disc dalam format CD yang dapat direkam satu kali. Ditentukan menurut standar Orange Book [Buku Jingga].
* CD ROM,
* CD-RW
* Codec, Kombinasi encoder [penyandi] dan decoder [pengurai sandi] untuk segala jenis sinyal Digital, audio atau video. Lihat: Penyandian Perseptual, Kompresi
* DAC, Lihat Konvertor D/A.
* Daya, Besarnya energi yang dihantarkan atau digunakan oleh piranti atau sistem, dinyatakan dalam Watt. Dalam audio, pentarafan Daya Amplifier dan Pengeras Suara bisa bervariasi dan tidak menentu, karena ada perbedaan yang sangat besar dalam jangka panjang, kondisi-stabil, pentarafan Daya dan kilasan atau kesementaraan, dan pentarafan Daya yang bisa jadi beberapa kali lipat lebih besar. Kekalutan lebih lanjut ditambah apabila pentarafan pada Frekuensi tunggal (katakanlah, 1 kHz) dibandingkan dengan pentarafan yang lebih realistis, 20 – 20 kHz. Dalam Amplifier Multi-kanal, terdapat variabel pentarafan lebih lanjut yang dilakukan pada operasi satu Kanal vs. pengaturan pada operasi semua Kanal. Hasilnya bagi konsumen, pentarafan Daya yang diiklankan sering kali nyaris tidak ada artinya.
* dB, lihat Desibel.
* DC, Direct Current [Arus Searah]. Suatu kondisi di mana Polaritas Voltase konstan dan aliran arus hanya dalam satu arah. Baterai dan pasokan listrik AC [bolak-balik] yang disearahkan, adalah sejumlah contoh sumber Daya DC.
* Desibel, Ukuran Logaritma relatif Voltase, arus atau Daya. Satu Desibel yaitu sepersepuluh bel, disingkat dB. Dalam istilah Daya, 3 dB = 2x, 10 dB = 10x. Dalam istilah arus atau voltase: 6 dB = 2x. Dalam istilah Kenyaringan yang dirasakan: 1 dB bisa terdengar, perubahan tingkat bunyi Suara 10 dB melambangkan Kenyaringan yang dua kali lipat atau setengahnya.
* Digital, Penyampaian kuantitas dalam bentuk angka, biasanya dalam binary. Dalam audio, ini berarti, bahwa bentuk Gelombang Suara di-sample [dicuplik] pada Frekuensi sangat tinggi dan setiap sample [cuplikan] disimpan dalam bentuk angka, sehingga bentuk Gelombang dapat secara bertahap direkonstruksi. Lihat konverter A/D, konverter D/A, Analog.
* Distorsi, Apabila Sinyal Audio sudah diubah oleh perilaku nonliner mikrofon, elektronik dan Pengeras Suara. Nonlinearities [Non-lineritas], apakah itu Akustik, mekanis atau listrik, akan mengubah Sinyal Audio yang diloloskan melewatinya. Lihat: Distorsi Liner, Distorsi Non-Liner.
* Distorsi Harmonis, Bentuk Distorsi yang terjadi apabila piranti nonliner digerakkan dengan Nada Murni. Distorsi Harmonis, Distorsi Non-Liner, Distorsi.
* Distorsi Intermodulasi, Distorsi tercipta apabila piranti nonliner digerakkan oleh beberapa nada. Produk yang dihasilkan Distorsi intermodulasi adalah sinyal tes multipel dan sub-multipel yang kompleks, sehingga lebih mudah terdengar daripada produk Distorsi Harmonis yang secara serempak diciptakan dalam tes tersebut. Musik, adalah sinyal kompleks yang membangkitkan Distorsi intermodulasi yang melimpah apabila diproses oleh piranti nonliner. Lihat: Distorsi Harmonis, Distorsi Non-Liner.
* DSP, Digital Signal Processing [Pengolahan Sinyal Digital]. Segala bentuk manipulasi yang dilakukan pada Sinyal Audio atau video sewaktu dalam bentuk Digital. Istilah DSP memperoleh reputasi yang tidak menguntungkan, sewaktu pada awal-awalnya, sinyal ini terkait dengan efek reverberasi/pemantulan buatan (aula, stadion, dsb.) yang bisa ditambahkan sewaktu playback [pemutaran]. Banyak dari efek ini ternyata tidak bagus. Sekarang, kualitas pengolahan DSP tidak diragukan lagi, dan hanya dibatasi oleh keterampilan programernya.
* DSS, Lihat: Sistem Satelit Digital
DVD Drive
* DVD, Awalnya diinterpretasikan sebagai Digital Video Disc, tetapi sekarang ada beberapa yang menggunakannya untuk medium, yang lebih populer dikenal sebagai Digital Versatile Disc.
* DVD Audio, Versi audio DVD, yang mana Kanal audio Digital multipel dapat disimpan dalam bentuk PCM tak dikompresi, atau menggunakan algoritma Kompresi lossless (sinyal audio Digital direkonstruksi tanpa ada yang diubah). Kapasitas penyimpanan DVD yang sangat besar, memungkinkan banyak opsi.
* Efek Frekuensi Rendah, Kanal 0,1 pada sinyal Dolby Digital Kanal 5,1. Ke 5 Kanal utama, seluruhnya berkisaran penuh, sehingga Kanal tambahan ini, yang mencakup kisaran Frekuensi 3 Hz s.d. 120 Hz tersedia untuk menampung Suara efek khusus Frekuensi rendah yang sangat nyaring, seperti letupan. Ini disertakan dalam Bas yang diatur oleh keluaran Subwoofer prosesor dan penerima Sekeliling, tetapi dibuang dalam Downmix dua Kanal Dolby Digital yang terjadi pada banyak alat pemutar DVD. Lihat: Downmix, Dolby Digital, Bass Management [Pengaturan Bas]
* EQ, Lihat: Equalizer [Penyeragam]
* Equalizer, Piranti yang terdiri atas filer yang dapat disetel, yang dapat mengubah respons Frekuensi sistem audio. Equalizer dapat menggantikan aberasi/kelainan respons Frekuensi dalam Pengeras Suara, kombinasi pengeras suara/ruangan dan juga untuk menyesuaikan keseimbangan nada rekaman. Lihat juga: Graphic Equalizer [Penyeragam Grafis], Parametric Equalizer [Penyeragam Parametris], Kontrol Nada.
* Fidelity, Lihat: High Fidelity
* FM, lihat Modulasi Frekuensi
* Frekuensi, Jumlah getaran atau siklus yang diselesaikan oleh sinyal dalam satu detik. Frekuensi dinyatakan dalam siklus, atau yang lebih umum yaitu, Hertz (Hz).
* Frekuensi Rendah, Pada umumnya merujuk ke Suara di bawah sekitar 300 Hz.
* Frekuensi Seberangan, Lihat Seberangan.
* Harmonis, Nada yang merupakan seluruh jumlah nada multipel asli atau fundamental. Secara numerik, harmoni pertama merupakan dasarnya. Harmoni melimpah dalam Suara musik, yang memberi kualitas yang menonjol pada alat musik dan suaranya. Apabila harmoni terjadi akibat distrosi nonliner, harmoni akan mengubah warna bunyi musik dan Suara. Lihat: Dasar Kehilangan, Overtone
* HDCD, High Definition Compatible Digital [Digital Kompatibel Definisi Tinggi]. Suatu proses pengkodeaan/penguraian kode yang ditujukan untuk memperluas performa Sinyal Audio 16-bit konvensional pada compact disc.
* HDTV, Lihat: Televisi Definisi Tinggi
* Hertz, Unit Dasar Frekuensi yang juga disebut siklus per detik. Jumlah siklus penuh yang diselesaikan dengan sinyal bolak-balik dalam satu detik.
* High Fidelity, Beberapa tahun yang lalu, istilah ini merujuk ke komponen audio yang didesain untuk memenuhi standar performa tertinggi. Sekarang, istilah ini berlaku untuk segala sesuatu yang bisa berbunyi. Namun demikian, makna semula dari kata-kata ini tetap dipertahankan dalam kamus dan menguraikan esensi yang terkandung, jika sekiranya tidak dijabarkan, yaitu mengenai objektif semua praktisi seni dan ilmiah audio yang serius.
* Hz, Singkatan untuk Hertz. Lihat Hertz.
* Impendansi, Dalam elektronik: lawan dari aliran Arus Bolak-Balik dalam sirkuit atau piranti. Secara tepat diekspresikan sebagai jumlah yang kompleks, istilah ini pun secara sederhana dirujuk sebagai magnitude [skala besar] saja. Magnitude secaraumum digunakan untuk menjelaskan Impedansi Driver dan sistem Pengeras Suara. Juga ada yang disebut Impedansi Akustik dan Impedansi mekanis.
* Impendansi Nominal, Pentarafan Impedansi awal Pengeras Suara, yang digunakan oleh para produsen untuk menyampaikan tentang beban yang akan dihadirkan oleh Pengeras Suara ke Amplifier. Malahan, Impedansi dari kebanyakan Pengeras Suara cukup bervariasi dengan Frekuensi, jadi Impedansi nominal hanyalah sebagai panduan kasar. Pada praktiknya, Impedansi minimum juga perlu diketahui.
* Infra Merah, Cahaya tidak kentara, pas di bawah warna merah dalam Spektrum warna yang terlihat. Dalam jumlah besar, ini diwujudkan sebagai hawa panas. Dalam jumlah kecil, ini digunakan sebagai medium pengisyaratan untuk kontrol jauh.
* Jalinan, Tampilan video terbuat dari dua Medan bolak-balik, satu yang memindai (scan) baris bernomor genap yang diikuti oleh satu lagi yang memindai baris bernomor ganjil. Laju pengulangan Medan biasanya tertaut ke Frekuensi aliran listrik AC [dua arah] setempat, mis. 60 medan/detik di Amerika Utara, yang berarti, penyajian gambar atau Bingkai yang lengkap, 30 kali per detik. Lihat: NTSC, PAL, SECAM, Scan Line.
* Jalur Lebar, Istilah yang menyiratkan bandwidth yang sangat lebar. Dalam konteks komunikasi data, ini menyiratkan koneksi dengan laju data yang lebih tinggi (bandwidth yang lebih lebar) daripada modem telepon.
* Kanal, Jalur sinyal. Stereo terdiri atas dua Kanal, berawal dari sumber sinyal dan berakhir di Pengeras Suara. Audio Multi-kanal bisa memiliki 5, 6 atau 7 Kanal, ditambah 1 Kanal untuk efek bunyi Bas rendah.
* Kendali Jauh IR, Kontrol jauh yang mengkomunikasikan dengan sarana sinar Infra merah (IR) Pengendalian tersebut memerlukan garis pandang lurus ke piranti yang sedang dikendalikan, atau permukaan pemantulan optik yang baik untuk membantu sinyal cahaya sampai ke sana. Lihat: RF jauh.
* Kenyaringan, Korelasi perseptual tingkat Suara. Persepsi Kenyaringan subjektif merupakan non-liner tinggi. Penggandaan atau pembelahan Kenyaringan hingga setengahnya memerlukan perubahan sekitar 10dB dalam tingkat Suara pada Frekuensi menengah dan tinggi. Pada Frekuensi rendah, sekecil-kecilnya bisa 4 dB. Perubah terkecil yang terdengar pada tingkat Kenyaringan secara keseluruhan sekitar 1 dB. 3 dB merupakan tingkat dengar yang pas. Kenyaringan juga tergantung pada Frekuensi, Bandwidth [Lebar jalur] dan durasi Suara. Lihat: Kontur Kenyaringan Sama.
* Kepekaan, Ukuran keluaran bunyi Pengeras Suara yang distandarkan untuk sinyal masukan yang diketahui. Semula, Daya masukan aalah 1 Watt. Dewasa ini, masukan distandarkan ke 2,83 Volt (1 Watt ke dalam 8 ohm). Pengukuran dilakukan pada axis di ruang tak-bergema (anechoic), pada jarak yang menempatkan mikrofon di Medan-jauh sistem Pengeras Suara, kemudian tingkat tekanan Suara dihitung untuk jarak mikrofon 1 meter. Ukuran jarak 1 meter terlalu dekat untuk semua Driver kecuali Driver tunggal dan siste Pengeras Suara yang sangat kecil. Lihat juga: Medan Jauh, Masukan, Kepekaan.
* Kerucut, Diafragma bentuk Kerucut dari Pengeras Suara yang bergetar dan memancarkan Suara. Uraian bebas untuk menggambarkan semua Diafragma, beberapa di antaranya memiliki profil lain, seperti kubah.
* Kisaran Dinamis, Prbedaan di antara bunyi Suara yang ternyaring dan terhalus, yang dapat direproduksi sesuai piranti atau format. Biasanya dinyatakan dalam dB.
* Kisaran Frekuensi Audio, Kisaran pendengaran manusia umumnya menerima 20 s.d. 20.000 Hertz (siklus per detik).
* Kontrol Bas, Kontrol nada memungkinkan pengguna untuk mem-boost atau memotong bagian Frekuensi rendah dari Sinyal Audio.
* Kontrol Imbangan, Dalam sistem stereo, kontrol untuk menyesuaikan tingkat Suara relatif pada Pengeras Suara kiri dan kanan. Pada sistem Multi-kanal terdapat penyesuaian imbangan depan-belakang. Pada audio mobil, penyesuaian depan-belakang disebut ‘fader’.
* Kontrol Nada, Filter sederhana yang dapat menaikkan (boost) atau memotong porsi kisaran Frekuensi audio, yang digunakan untuk mengubah imbangan nada Suara reproduksi. Lihat Kontrol Bas, Kontrol Trebel, Penyeragam (Equalizer).
* Kontrol Trebel, Kontrol nada memungkinkan pengguna untuk mem-boost atau memotong bagian Frekuensi tinggi Sinyal Audio.
* Konvertor A/D, Piranti yang menerima sinyal Analog pada saat masukannya dan sinyal tersebut dikeluarkan dalam versi Digital.
* Konvertor D/A, Piranti yang menerima sinyal Digital sebagai masukan dan diubah menjadi keluaran bentuk Analog.
* Kotak Surat, Metode penampilan gambar Layar lebar pada tampilan dengan Rasio Aspek standar 4:3. Lebar gambar yaitu lebar tampilan, tetapi tingginya berkurang, yang berarti, bahwa ada palang hitam di atas dan di bawah – seperti Kotak surat.
* Krominansi, Warna (nuansa dan saturasi) cahaya, kemandirian Luminansi (kecerahan) atau sebagian sinyal video yang membawa informasi ini. Ditentukan oleh simbol ‘C’. Lihat: Luminansi.
* Layar Lebar, Layar tampilan video lebih lebar daripada Rasio Aspek standar 4:3, meskipun dalam konteks DVD dan HDTV, Layar lebar merujuk secara khusus ke Rasio Aspek 16:9. Lihat: Rasio Aspek.
* LCD, Liquid Crystal Display adalah tampilan yang dapat mengubah pemantulan dan/atau Transparansi menurut pemakaian Voltase. Tampilan ini dibagi ke dalam sejumlah Piksel kecil-kecil yang terkendali secara independen. Ini sangat umum: jam Digital, kalkulator, dasbor, layar komputer, tampilan video Pantulan belakang dan depan, dsb. Sejak tampilan ini digunakan sebagai piranti transmisi cahaya dalam kebanyakan aplikasi, ada sejumlah kerugian, dan menghadirkan tantangan untuk mengendalikan Voltase setiap Piksel dalam memaksimalkan Rasio Apertur. Lihat: Rasio Apertur, Proyektor.
* LED, Light Emitting Diode. Komponen elektronik yang memijarkan cahaya sewaktu diberi energi. Umumnya digunakan sebagai cahaya indikator pada peralatan elektronik dan dewasa ini tampil dalam susunan lampu belakang mobil dan lampu lalu-lintas.
* LFE, Lihat: Efek Frekuensi Rendah
* Modulasi Amplitudo, Metode siaran radio yang mana Frekuensi pembawa radio termodulasi maksimum oleh Sinyal Audio. Umumnya terbatas dalam bandwidth, dan rentan terhadap interferensi dan statis. Namun, merambat dengan baik melintasi jarak jauh dan ke Sekeliling perbukitan serta gedung-gedung. Disingkat AM.
* Modulasi Frekuensi, Metode siaran radio yang mana Frekuensi pembawa radio adalah modulasi Frekuensi oleh Sinyal Audio. Mampu menghasilkan Suara berkualitas tinggi dan relatif kebal terhadap interferensi dan statis. Namun, perambatannya buruk pada jarak jauh dan mengalami interferensi Multi-jalur serta masalah zona bayangan di daerah perkotaan dan perbukitan.
* Modulasi Kode Denyut, Metode penyandian langsung, tanpa Kompresi di mana sinyal Analog di-sample [dicuplik] pada interval reguler dan setiap sample [cuplikan] dilambangkan oleh angka Digital yang menunjukkan Amplitudo pada saat itu juga. Sampling [Pencuplikan] yang dilakukan pada Frekuensi, sedikitnya 2 kali lipat dari Frekuensi tertinggi yang menjadi kepentingan dan jumlah Digital harus memiliki jumlah Bit yang cukup untuk mengabadikan dan merekonstruksi kualitas Sinyal Audio yang esensial (kisaran dinamis, Distorsi dan desis rendah, dsb.) Misalnya, CD yang secara normal direkam dengan menggunakan Frekuensi sampling 44,1 kHz, direkam dengan menggunakan Digital 16 Bit. Lihat: Bit, Kompresi.
* Multi Kanal, Sistem rekaman/reproduksi Suara dengan lebih dari dua Kanal dan Pengeras Suara. Sistem pada saat ini, memiliki 5, 6, atau 7 Kanal ditambah Kanal Frekuensi Rendah' class='link'>Efek Frekuensi Rendah (LFE). Bunyi Suara Multi-kanal dapat juga dirangsang dari sumber dua Kanal. Lihat Logic 7, Dolby ProLogic Plus.
* Multi Ruang, Fitur sistem whole-house khusus dan beberapa AV Receiver, yang memungkinkan bunyi Suara dihantarkan ke Pengeras Suara di ruangan lain tanpa mengganggu pada apa yang sedang terjadi di ruangan hiburan utama.
* Ohm, Unit Dasar untuk mengukur Resistansi dan Impedansi.
* Pindai, Metode untuk mengkonversi program Layar lebar dan film untuk penayangan pada televisi dengan Rasio Aspek standar 4:3. Metode ini juga melibatkan perekaman ulang program sewaktu menelusuri (panning) dan memindai (mengayun ke kiri dan ke kanan) dengan kamera, memilih bagian gambar yang akan diperlihatkan dalam ukuran yang lebih kecil. Jelas, bahwa hasilnya tidak sama dengan film yang diciptakan sang sutradara, tetapi tayangannya memenuhi seluruh layar TV. Alternatifnya adalah letterboxing [kotak huruf] Lihat: Letterbox [kotak huruf], Layar lebar, Rasio Aspek.
* PCM, Lihat: Modulasi Kode-Denyut
* Pemilihan Kanal Bergantian, Ukuran kemampuan tuner [penala] radio untuk menolak informasi dari stasiun radio yang frekuensinya dekat ke Frekuensi radio yang sedang didengarkan.
* Pemindaian Progresif, Layar tampilan video yang memindai semua garis secara berurutan dalam setiap pelolosan. Line Doubler [Pendobel Saluran] bisa menciptakan gambar pindaian seara progresif dari Jalinan sinyal pindai. Lihat: Pendobel Saluran.
* Pemisahan Kanal, Lihat: Pemisahan.
* Pencitraan, Dalam reproduksi suara: Ilusi arah yang ditafsirkan dan ruang yang berkaitan ke lokasi alat dan Suara musik, serta ke Lingkungan Akustik tempat pertunjukannya.
* Pengaturan Bas, Fungsi dalam Prosesor Sekeliling Multi-kanal yang mengkombinasikan Frekuensi Bas rendah dari semua Kanal (termasuk Kanal LFE) dalam rekaman dan mengarahkannya ke Pengeras Suara yang sesuai. Untuk melakukan ini, pelanggan harus memberi tahu nomor, jenis (kecil atau besar), dan penempatan Pengeras Suara, dan apakah ada Subwoofer pada sistemnya. Lihat: LFE
* Pengeras Suara Aktif, Pengeras Suara yang memiliki Amplifier Daya built-in, sekurang-kurangnya pada satu Driver, biasanya Woofer atau Subwoofer. Pengeras Suara ini pun mungkin memiliki Amplifier untuk Driver Frekuensi menengah dan tinggi. Lihat: Menara Pendayaan
* Pengkalangan Tak Kentara, Penggunaan komponen terpisah seperti transistor, resistor, Kapasitor dan Dioda dalam sirkuit elektronik alih-alih IC's (Integrated Circuits) yang mana, komponen-komponen ini difabrikasi dalam ukuran mikroskopik pada chip silikon. Faktor performa dan ekonomi biasanya menentukan pilihan.
* Penjembatanan, Mengkombinasikan keluaran dua Kanal Penguatan untuk menyediakan satu Kanal yang lebih bertenaga. Perhatikan, bahwa Penjembatanan dapat menaikkan Impedansi beban minimum yang dapat digerakkan secara aman oleh Amplifier.
* Penolakan AM, Suatu spesifikasi yang menjelaskan sebaik apa tuner atau penala radio bisa mengabaikan perubahan dalam Amplitudo sinyal FM, seperti yang disebabkan oleh efek dan interferensi rambatan.
* Pentarafan Daya, Lihat: Daya.
* Perlindungan Magnetis, Desain Motor Pengeras Suara di mana jalaran Medan magnetis ditekan untuk menghindarkan Distorsi pada CRT atau Kepekaan magnetis lainnya pada tampilan video.
* Perlindungan Video, Lihat Pengeras Suara Berpelindung
* Piksel, lemen terkecil dalam gambar. Setiap bintik dalam gambar yang terdiri atas sejumlah bintik, seperti dalam semua sistem video Digital.
* Preamplifier, Komponen audio yang memilih sumber sinyal dan menyediakan fungsi kompensasi Volume serta nada. Mungkin ada tahap Penguatan khusus untuk masukan kartrid fono. Penguatan ini memiliki keluaran Tingkat Saluran untuk menggerakkan Amplifier Daya. Biasanya, piranti stereo, ekuivalen multi-kanalnya yaitu Prosesor Sekeliling.
* Rasio Aspek, Perbandingan lebar-tinggi gambar visual. Pesawat televisi NTSC standar memilih Rasio Aspek 4:3 (4 unit lebar berbanding 3 unit tinggi). Pesawat televisi Layar lebar memiliki Rasio Aspek 16:9. Banyak film yang bahkan diproduksi dengan rasio yang lebih lebar. Gambar dengan Rasio Aspek yang berbeda dari tampilan, akan menunjukkan palang hitam di bagian atas dan bawah, atau di samping-sampingnya. Lihat: Layar lebar, NTSC.
* Resolusi, VIDEO: Dalam tampilan layar Digital, in adalah jumlah Piksel berikut lebar dan tinggi gambar. Dalam layar tampilan apa pun, ini adalah pengamatan kejernihan rincian dalam gambar. Ini bisa berbeda untuk benda yang tidak bergerak dan benda bergerak, dan Resolusi penafsiaran bisa lain dari yang ditentukan secara teknis. AUDIO: istilah bebas yang digunakan untuk menguraikan persepsi rincian kecil dalam musik. Lihat: Piksel
* Respons Frekuensi, Ukuran Amplitudo vs. performa Frekuensi komponen audio, diukur dari masukannya ke keluarannya. Piranti elektronik yang sempurna, selayaknya memiliki respons Frekuensi rata atau liner pada kisaran frekuensinya yang bermanfaat, yang menandakan bahwa piranti dapat mereproduksi semua Frekuensi pada tingkat yang tepat. Pengeras Suara lebih rumit, karena keluaran merupakan bunyi Suara yang dipancarkan ke semua arah. Yang penting adalah mengukur respons Frekuensi pada banyak lokasi di Sekeliling Pengeras Suara agar dapat memperkirakan, bagaimana bunyinya terdengar di dalam ruangan. Untuk Pengeras Suara, tidak ada ukuran respons Frekuensi tunggal yang secara lengkap menguraikan performanya. Lihat: Fungsi Transfer, Spektrum.
* Seberangan (Cross Over), Filter listrik yang mengarahkan Frekuensi yang sesuai ke Woofer, kisaran menengah, Tweeter, dsb., dalam sistem Pengeras Suara. Frekuensi Seberangan adalah Frekuensi di mana Driver Pengeras Suara dimatikan (misalnya, woofer) dan memiliki tingkat bunyi Suara yang sama seperti pada Driver Pengeras Suara yang dihidupkan (misalnya, tweeter).
* Seberangan Aktif (Cross Over Active), Piranti Analog atau Digital melakukan fungsi high-pass [lulus-atas], low-pass [lulus-bawah] dan bandpass [lulus-jalur] terlebih dulu dari Amplifier Daya yang menggerakan transduser/pengalih dalam Pengeras Suara.
* Sinyal Audio, Sinyal Frekuensi audio dalam bentuk elektronik atau sesudah diubah menjadi Suara.
* Televisi Definisi Tinggi, Suatu sistem video yang sekitar dua kali lebih besar dari Resolusi horizontal dan vertikal televisi NTSC konvensional dan ditampilkan dalam perbandingan aspek 16:9. Lihat: NTSC, Perbandingan Aspek, Resolusi
* Tuner (Radio/Penala), Piranti yang menala, atau memilih, stasiun radio atau televisi dari sinyal siaran yang diterima pada antena terestrial, melalui kabel atau satelit.
* Umpan Balik, Dalam Amplifier: kebiasaan menghubungkan (mengumpan balik) sebagian sinyal keluaran ke sinyal masukan agar dapat dibandingkan ke sinyal masukan dan kesalahan diperbaiki. Sinyal harus terbalik (umpan balik negatif) untuk mencegah osilasi/guncangan, atau gaungan yang sangat nyaring dan tidak terkendali (umpan balik positif). Umpan-balk positif kadang-kadang dialami pada sistem Pengeras Suara di muka umum yang mengeluarkan bunyi denging atau Gaung apabila terlalu banyak bunyi Suara kuat yang tertangkap oleh mikrofon.
* Video Komponen, Sinyal video terdiri atas tiga komponen: merah/hijau/biru (RGB) atau metode Perbedaan Warna yang memiliki satu dari beberapa nama berikut: Y,U,V atau Y, Pb, Pr atau Y, B-Y, R-Y. Yang disebut terakhir adalah metode penyimpanan video pada DVD dan koneksi komponen adalah pilihan cara untuk mengkomunikasikan informasi video ke layar tampilan. Kabel hijau, biru dan merah dapat diputus dalam salah astu steker, RCA atau BNC. Lihat: Chrominance [Krominansi], Luminance [Luminansi], RCA, S-Video, BNC.
* Video Komposit, Sinyal video di mana sinyal Krominansi dan Luminansi dipadukan berikut siknronisasi sinyal. Ini biasanya menggunakan kabel, tampak seperti kabel audio kuning berikut konektor RCA. Ini adalah bentuk video paling mendasar yang bisa ditemukan pada nyaris semua TV, VCR, dsb. Lihat: Krominansi, Luminansi, RCA, S-Video, Video Komponen.
* Video MPEG, MPEG-1 adalah algoritma Kompresi data untuk video kualitas rendah, seperti CD Video. MPEG-2 digunakan untuk DVD dan HDTV. Lihat:
* Volt, Lihat Voltase
* Voltase, Perbedaan potensi listrik diukur dalam Volt.
* Volume, Audio: bisa diartikan, Kenyaringan Suara dan kontrol yang memungkinkan kita meragamkannya. Pengeras suara: Ukuran kubik ruang dalam selubung Pengeras Suara.
* Watt, Unit Dasar untuk Daya listrik atau Akustik. Lihat: Daya
* Wattage, Besarnya Daya listrik dinyatakan dalam Watt. Lihat: Daya
Berikut ini beberapa istilah di dunia per Audio-an yang mungkin pernah didengar tetapi belum paham apa maksud dari istilah-istilah tersebut. Dengan memahami istilah-istilah Audio maka Anda akan lebih mudah untuk mengerti dalam membaca spesifikasi produk Audio.
* AC, lihat Arus Bolak-Balik (Alternating Current)
* Amper, Besarnya arus listrik seperti yang dinyatakan dalam Amper. Unit pengukuran untuk arus listrik yang mengalir melalui sirkuit. Disingkat: amp.
* Amplifier, Piranti yang menambah besarnya Voltase, arus atau Daya dalam sistem elektronik. Dalam sistem audio, Preamplifier dan Prosesor Sekeliling meningkatkan Voltase. Amplifier Daya meningkatkan Voltase dan arus, oleh sebab itu tersedia keluaran Daya yang lebih besar untuk menggerakkan Pengeras Suara.
* Amplifikasi, Kenaikan dalam tingkat sinyal.
* Analog, Sinyal listrik yang bentuk Gelombang (atau arus) voltasenya sama seperti Gelombang Suara Akustik asli. Lihat juga Digital
* Audio MPEG, MPEG-1 adalah algoritma Penyandian Perseptual untuk dua Kanal audio. MPEG-2 mewujudkan audio Multi-kanal. Lihat: Penyandian Perseptual
* Bandwidth, Perbedaan antara batas Frekuensi penggunaan atas dan bawah dari satu sirkuit, piranti atau Kanal komunikasi (radio, TV atau transmisi data digital).
* Bas, Sinyal audio Frekuensi rendah. Frekuensi kira-kira di bawah 300Hz.
* Bicara-Silang, Bunyi Suara yang tidak diinginkan dari satu Kanal yang bocor ke Kanal lainnya.
* CD, CD = Compact Disc. Suatu format cakram (disc) optik untuk menyimpan sinyal Digital, yang dikembangkan secara gabungan oleh Sony dan Philips.
* CD-DA, CD-DA = Compact Disc Digital Audio, format penyimpanan musik Digital PCM yang asli, yang ditentukan oleh standar Red Book [Buku Merah].
* CD-R, Disc dalam format CD yang dapat direkam satu kali. Ditentukan menurut standar Orange Book [Buku Jingga].
* CD ROM,
* CD-RW
* Codec, Kombinasi encoder [penyandi] dan decoder [pengurai sandi] untuk segala jenis sinyal Digital, audio atau video. Lihat: Penyandian Perseptual, Kompresi
* DAC, Lihat Konvertor D/A.
* Daya, Besarnya energi yang dihantarkan atau digunakan oleh piranti atau sistem, dinyatakan dalam Watt. Dalam audio, pentarafan Daya Amplifier dan Pengeras Suara bisa bervariasi dan tidak menentu, karena ada perbedaan yang sangat besar dalam jangka panjang, kondisi-stabil, pentarafan Daya dan kilasan atau kesementaraan, dan pentarafan Daya yang bisa jadi beberapa kali lipat lebih besar. Kekalutan lebih lanjut ditambah apabila pentarafan pada Frekuensi tunggal (katakanlah, 1 kHz) dibandingkan dengan pentarafan yang lebih realistis, 20 – 20 kHz. Dalam Amplifier Multi-kanal, terdapat variabel pentarafan lebih lanjut yang dilakukan pada operasi satu Kanal vs. pengaturan pada operasi semua Kanal. Hasilnya bagi konsumen, pentarafan Daya yang diiklankan sering kali nyaris tidak ada artinya.
* dB, lihat Desibel.
* DC, Direct Current [Arus Searah]. Suatu kondisi di mana Polaritas Voltase konstan dan aliran arus hanya dalam satu arah. Baterai dan pasokan listrik AC [bolak-balik] yang disearahkan, adalah sejumlah contoh sumber Daya DC.
* Desibel, Ukuran Logaritma relatif Voltase, arus atau Daya. Satu Desibel yaitu sepersepuluh bel, disingkat dB. Dalam istilah Daya, 3 dB = 2x, 10 dB = 10x. Dalam istilah arus atau voltase: 6 dB = 2x. Dalam istilah Kenyaringan yang dirasakan: 1 dB bisa terdengar, perubahan tingkat bunyi Suara 10 dB melambangkan Kenyaringan yang dua kali lipat atau setengahnya.
* Digital, Penyampaian kuantitas dalam bentuk angka, biasanya dalam binary. Dalam audio, ini berarti, bahwa bentuk Gelombang Suara di-sample [dicuplik] pada Frekuensi sangat tinggi dan setiap sample [cuplikan] disimpan dalam bentuk angka, sehingga bentuk Gelombang dapat secara bertahap direkonstruksi. Lihat konverter A/D, konverter D/A, Analog.
* Distorsi, Apabila Sinyal Audio sudah diubah oleh perilaku nonliner mikrofon, elektronik dan Pengeras Suara. Nonlinearities [Non-lineritas], apakah itu Akustik, mekanis atau listrik, akan mengubah Sinyal Audio yang diloloskan melewatinya. Lihat: Distorsi Liner, Distorsi Non-Liner.
* Distorsi Harmonis, Bentuk Distorsi yang terjadi apabila piranti nonliner digerakkan dengan Nada Murni. Distorsi Harmonis, Distorsi Non-Liner, Distorsi.
* Distorsi Intermodulasi, Distorsi tercipta apabila piranti nonliner digerakkan oleh beberapa nada. Produk yang dihasilkan Distorsi intermodulasi adalah sinyal tes multipel dan sub-multipel yang kompleks, sehingga lebih mudah terdengar daripada produk Distorsi Harmonis yang secara serempak diciptakan dalam tes tersebut. Musik, adalah sinyal kompleks yang membangkitkan Distorsi intermodulasi yang melimpah apabila diproses oleh piranti nonliner. Lihat: Distorsi Harmonis, Distorsi Non-Liner.
* DSP, Digital Signal Processing [Pengolahan Sinyal Digital]. Segala bentuk manipulasi yang dilakukan pada Sinyal Audio atau video sewaktu dalam bentuk Digital. Istilah DSP memperoleh reputasi yang tidak menguntungkan, sewaktu pada awal-awalnya, sinyal ini terkait dengan efek reverberasi/pemantulan buatan (aula, stadion, dsb.) yang bisa ditambahkan sewaktu playback [pemutaran]. Banyak dari efek ini ternyata tidak bagus. Sekarang, kualitas pengolahan DSP tidak diragukan lagi, dan hanya dibatasi oleh keterampilan programernya.
* DSS, Lihat: Sistem Satelit Digital
DVD Drive
* DVD, Awalnya diinterpretasikan sebagai Digital Video Disc, tetapi sekarang ada beberapa yang menggunakannya untuk medium, yang lebih populer dikenal sebagai Digital Versatile Disc.
* DVD Audio, Versi audio DVD, yang mana Kanal audio Digital multipel dapat disimpan dalam bentuk PCM tak dikompresi, atau menggunakan algoritma Kompresi lossless (sinyal audio Digital direkonstruksi tanpa ada yang diubah). Kapasitas penyimpanan DVD yang sangat besar, memungkinkan banyak opsi.
* Efek Frekuensi Rendah, Kanal 0,1 pada sinyal Dolby Digital Kanal 5,1. Ke 5 Kanal utama, seluruhnya berkisaran penuh, sehingga Kanal tambahan ini, yang mencakup kisaran Frekuensi 3 Hz s.d. 120 Hz tersedia untuk menampung Suara efek khusus Frekuensi rendah yang sangat nyaring, seperti letupan. Ini disertakan dalam Bas yang diatur oleh keluaran Subwoofer prosesor dan penerima Sekeliling, tetapi dibuang dalam Downmix dua Kanal Dolby Digital yang terjadi pada banyak alat pemutar DVD. Lihat: Downmix, Dolby Digital, Bass Management [Pengaturan Bas]
* EQ, Lihat: Equalizer [Penyeragam]
* Equalizer, Piranti yang terdiri atas filer yang dapat disetel, yang dapat mengubah respons Frekuensi sistem audio. Equalizer dapat menggantikan aberasi/kelainan respons Frekuensi dalam Pengeras Suara, kombinasi pengeras suara/ruangan dan juga untuk menyesuaikan keseimbangan nada rekaman. Lihat juga: Graphic Equalizer [Penyeragam Grafis], Parametric Equalizer [Penyeragam Parametris], Kontrol Nada.
* Fidelity, Lihat: High Fidelity
* FM, lihat Modulasi Frekuensi
* Frekuensi, Jumlah getaran atau siklus yang diselesaikan oleh sinyal dalam satu detik. Frekuensi dinyatakan dalam siklus, atau yang lebih umum yaitu, Hertz (Hz).
* Frekuensi Rendah, Pada umumnya merujuk ke Suara di bawah sekitar 300 Hz.
* Frekuensi Seberangan, Lihat Seberangan.
* Harmonis, Nada yang merupakan seluruh jumlah nada multipel asli atau fundamental. Secara numerik, harmoni pertama merupakan dasarnya. Harmoni melimpah dalam Suara musik, yang memberi kualitas yang menonjol pada alat musik dan suaranya. Apabila harmoni terjadi akibat distrosi nonliner, harmoni akan mengubah warna bunyi musik dan Suara. Lihat: Dasar Kehilangan, Overtone
* HDCD, High Definition Compatible Digital [Digital Kompatibel Definisi Tinggi]. Suatu proses pengkodeaan/penguraian kode yang ditujukan untuk memperluas performa Sinyal Audio 16-bit konvensional pada compact disc.
* HDTV, Lihat: Televisi Definisi Tinggi
* Hertz, Unit Dasar Frekuensi yang juga disebut siklus per detik. Jumlah siklus penuh yang diselesaikan dengan sinyal bolak-balik dalam satu detik.
* High Fidelity, Beberapa tahun yang lalu, istilah ini merujuk ke komponen audio yang didesain untuk memenuhi standar performa tertinggi. Sekarang, istilah ini berlaku untuk segala sesuatu yang bisa berbunyi. Namun demikian, makna semula dari kata-kata ini tetap dipertahankan dalam kamus dan menguraikan esensi yang terkandung, jika sekiranya tidak dijabarkan, yaitu mengenai objektif semua praktisi seni dan ilmiah audio yang serius.
* Hz, Singkatan untuk Hertz. Lihat Hertz.
* Impendansi, Dalam elektronik: lawan dari aliran Arus Bolak-Balik dalam sirkuit atau piranti. Secara tepat diekspresikan sebagai jumlah yang kompleks, istilah ini pun secara sederhana dirujuk sebagai magnitude [skala besar] saja. Magnitude secaraumum digunakan untuk menjelaskan Impedansi Driver dan sistem Pengeras Suara. Juga ada yang disebut Impedansi Akustik dan Impedansi mekanis.
* Impendansi Nominal, Pentarafan Impedansi awal Pengeras Suara, yang digunakan oleh para produsen untuk menyampaikan tentang beban yang akan dihadirkan oleh Pengeras Suara ke Amplifier. Malahan, Impedansi dari kebanyakan Pengeras Suara cukup bervariasi dengan Frekuensi, jadi Impedansi nominal hanyalah sebagai panduan kasar. Pada praktiknya, Impedansi minimum juga perlu diketahui.
* Infra Merah, Cahaya tidak kentara, pas di bawah warna merah dalam Spektrum warna yang terlihat. Dalam jumlah besar, ini diwujudkan sebagai hawa panas. Dalam jumlah kecil, ini digunakan sebagai medium pengisyaratan untuk kontrol jauh.
* Jalinan, Tampilan video terbuat dari dua Medan bolak-balik, satu yang memindai (scan) baris bernomor genap yang diikuti oleh satu lagi yang memindai baris bernomor ganjil. Laju pengulangan Medan biasanya tertaut ke Frekuensi aliran listrik AC [dua arah] setempat, mis. 60 medan/detik di Amerika Utara, yang berarti, penyajian gambar atau Bingkai yang lengkap, 30 kali per detik. Lihat: NTSC, PAL, SECAM, Scan Line.
* Jalur Lebar, Istilah yang menyiratkan bandwidth yang sangat lebar. Dalam konteks komunikasi data, ini menyiratkan koneksi dengan laju data yang lebih tinggi (bandwidth yang lebih lebar) daripada modem telepon.
* Kanal, Jalur sinyal. Stereo terdiri atas dua Kanal, berawal dari sumber sinyal dan berakhir di Pengeras Suara. Audio Multi-kanal bisa memiliki 5, 6 atau 7 Kanal, ditambah 1 Kanal untuk efek bunyi Bas rendah.
* Kendali Jauh IR, Kontrol jauh yang mengkomunikasikan dengan sarana sinar Infra merah (IR) Pengendalian tersebut memerlukan garis pandang lurus ke piranti yang sedang dikendalikan, atau permukaan pemantulan optik yang baik untuk membantu sinyal cahaya sampai ke sana. Lihat: RF jauh.
* Kenyaringan, Korelasi perseptual tingkat Suara. Persepsi Kenyaringan subjektif merupakan non-liner tinggi. Penggandaan atau pembelahan Kenyaringan hingga setengahnya memerlukan perubahan sekitar 10dB dalam tingkat Suara pada Frekuensi menengah dan tinggi. Pada Frekuensi rendah, sekecil-kecilnya bisa 4 dB. Perubah terkecil yang terdengar pada tingkat Kenyaringan secara keseluruhan sekitar 1 dB. 3 dB merupakan tingkat dengar yang pas. Kenyaringan juga tergantung pada Frekuensi, Bandwidth [Lebar jalur] dan durasi Suara. Lihat: Kontur Kenyaringan Sama.
* Kepekaan, Ukuran keluaran bunyi Pengeras Suara yang distandarkan untuk sinyal masukan yang diketahui. Semula, Daya masukan aalah 1 Watt. Dewasa ini, masukan distandarkan ke 2,83 Volt (1 Watt ke dalam 8 ohm). Pengukuran dilakukan pada axis di ruang tak-bergema (anechoic), pada jarak yang menempatkan mikrofon di Medan-jauh sistem Pengeras Suara, kemudian tingkat tekanan Suara dihitung untuk jarak mikrofon 1 meter. Ukuran jarak 1 meter terlalu dekat untuk semua Driver kecuali Driver tunggal dan siste Pengeras Suara yang sangat kecil. Lihat juga: Medan Jauh, Masukan, Kepekaan.
* Kerucut, Diafragma bentuk Kerucut dari Pengeras Suara yang bergetar dan memancarkan Suara. Uraian bebas untuk menggambarkan semua Diafragma, beberapa di antaranya memiliki profil lain, seperti kubah.
* Kisaran Dinamis, Prbedaan di antara bunyi Suara yang ternyaring dan terhalus, yang dapat direproduksi sesuai piranti atau format. Biasanya dinyatakan dalam dB.
* Kisaran Frekuensi Audio, Kisaran pendengaran manusia umumnya menerima 20 s.d. 20.000 Hertz (siklus per detik).
* Kontrol Bas, Kontrol nada memungkinkan pengguna untuk mem-boost atau memotong bagian Frekuensi rendah dari Sinyal Audio.
* Kontrol Imbangan, Dalam sistem stereo, kontrol untuk menyesuaikan tingkat Suara relatif pada Pengeras Suara kiri dan kanan. Pada sistem Multi-kanal terdapat penyesuaian imbangan depan-belakang. Pada audio mobil, penyesuaian depan-belakang disebut ‘fader’.
* Kontrol Nada, Filter sederhana yang dapat menaikkan (boost) atau memotong porsi kisaran Frekuensi audio, yang digunakan untuk mengubah imbangan nada Suara reproduksi. Lihat Kontrol Bas, Kontrol Trebel, Penyeragam (Equalizer).
* Kontrol Trebel, Kontrol nada memungkinkan pengguna untuk mem-boost atau memotong bagian Frekuensi tinggi Sinyal Audio.
* Konvertor A/D, Piranti yang menerima sinyal Analog pada saat masukannya dan sinyal tersebut dikeluarkan dalam versi Digital.
* Konvertor D/A, Piranti yang menerima sinyal Digital sebagai masukan dan diubah menjadi keluaran bentuk Analog.
* Kotak Surat, Metode penampilan gambar Layar lebar pada tampilan dengan Rasio Aspek standar 4:3. Lebar gambar yaitu lebar tampilan, tetapi tingginya berkurang, yang berarti, bahwa ada palang hitam di atas dan di bawah – seperti Kotak surat.
* Krominansi, Warna (nuansa dan saturasi) cahaya, kemandirian Luminansi (kecerahan) atau sebagian sinyal video yang membawa informasi ini. Ditentukan oleh simbol ‘C’. Lihat: Luminansi.
* Layar Lebar, Layar tampilan video lebih lebar daripada Rasio Aspek standar 4:3, meskipun dalam konteks DVD dan HDTV, Layar lebar merujuk secara khusus ke Rasio Aspek 16:9. Lihat: Rasio Aspek.
* LCD, Liquid Crystal Display adalah tampilan yang dapat mengubah pemantulan dan/atau Transparansi menurut pemakaian Voltase. Tampilan ini dibagi ke dalam sejumlah Piksel kecil-kecil yang terkendali secara independen. Ini sangat umum: jam Digital, kalkulator, dasbor, layar komputer, tampilan video Pantulan belakang dan depan, dsb. Sejak tampilan ini digunakan sebagai piranti transmisi cahaya dalam kebanyakan aplikasi, ada sejumlah kerugian, dan menghadirkan tantangan untuk mengendalikan Voltase setiap Piksel dalam memaksimalkan Rasio Apertur. Lihat: Rasio Apertur, Proyektor.
* LED, Light Emitting Diode. Komponen elektronik yang memijarkan cahaya sewaktu diberi energi. Umumnya digunakan sebagai cahaya indikator pada peralatan elektronik dan dewasa ini tampil dalam susunan lampu belakang mobil dan lampu lalu-lintas.
* LFE, Lihat: Efek Frekuensi Rendah
* Modulasi Amplitudo, Metode siaran radio yang mana Frekuensi pembawa radio termodulasi maksimum oleh Sinyal Audio. Umumnya terbatas dalam bandwidth, dan rentan terhadap interferensi dan statis. Namun, merambat dengan baik melintasi jarak jauh dan ke Sekeliling perbukitan serta gedung-gedung. Disingkat AM.
* Modulasi Frekuensi, Metode siaran radio yang mana Frekuensi pembawa radio adalah modulasi Frekuensi oleh Sinyal Audio. Mampu menghasilkan Suara berkualitas tinggi dan relatif kebal terhadap interferensi dan statis. Namun, perambatannya buruk pada jarak jauh dan mengalami interferensi Multi-jalur serta masalah zona bayangan di daerah perkotaan dan perbukitan.
* Modulasi Kode Denyut, Metode penyandian langsung, tanpa Kompresi di mana sinyal Analog di-sample [dicuplik] pada interval reguler dan setiap sample [cuplikan] dilambangkan oleh angka Digital yang menunjukkan Amplitudo pada saat itu juga. Sampling [Pencuplikan] yang dilakukan pada Frekuensi, sedikitnya 2 kali lipat dari Frekuensi tertinggi yang menjadi kepentingan dan jumlah Digital harus memiliki jumlah Bit yang cukup untuk mengabadikan dan merekonstruksi kualitas Sinyal Audio yang esensial (kisaran dinamis, Distorsi dan desis rendah, dsb.) Misalnya, CD yang secara normal direkam dengan menggunakan Frekuensi sampling 44,1 kHz, direkam dengan menggunakan Digital 16 Bit. Lihat: Bit, Kompresi.
* Multi Kanal, Sistem rekaman/reproduksi Suara dengan lebih dari dua Kanal dan Pengeras Suara. Sistem pada saat ini, memiliki 5, 6, atau 7 Kanal ditambah Kanal Frekuensi Rendah' class='link'>Efek Frekuensi Rendah (LFE). Bunyi Suara Multi-kanal dapat juga dirangsang dari sumber dua Kanal. Lihat Logic 7, Dolby ProLogic Plus.
* Multi Ruang, Fitur sistem whole-house khusus dan beberapa AV Receiver, yang memungkinkan bunyi Suara dihantarkan ke Pengeras Suara di ruangan lain tanpa mengganggu pada apa yang sedang terjadi di ruangan hiburan utama.
* Ohm, Unit Dasar untuk mengukur Resistansi dan Impedansi.
* Pindai, Metode untuk mengkonversi program Layar lebar dan film untuk penayangan pada televisi dengan Rasio Aspek standar 4:3. Metode ini juga melibatkan perekaman ulang program sewaktu menelusuri (panning) dan memindai (mengayun ke kiri dan ke kanan) dengan kamera, memilih bagian gambar yang akan diperlihatkan dalam ukuran yang lebih kecil. Jelas, bahwa hasilnya tidak sama dengan film yang diciptakan sang sutradara, tetapi tayangannya memenuhi seluruh layar TV. Alternatifnya adalah letterboxing [kotak huruf] Lihat: Letterbox [kotak huruf], Layar lebar, Rasio Aspek.
* PCM, Lihat: Modulasi Kode-Denyut
* Pemilihan Kanal Bergantian, Ukuran kemampuan tuner [penala] radio untuk menolak informasi dari stasiun radio yang frekuensinya dekat ke Frekuensi radio yang sedang didengarkan.
* Pemindaian Progresif, Layar tampilan video yang memindai semua garis secara berurutan dalam setiap pelolosan. Line Doubler [Pendobel Saluran] bisa menciptakan gambar pindaian seara progresif dari Jalinan sinyal pindai. Lihat: Pendobel Saluran.
* Pemisahan Kanal, Lihat: Pemisahan.
* Pencitraan, Dalam reproduksi suara: Ilusi arah yang ditafsirkan dan ruang yang berkaitan ke lokasi alat dan Suara musik, serta ke Lingkungan Akustik tempat pertunjukannya.
* Pengaturan Bas, Fungsi dalam Prosesor Sekeliling Multi-kanal yang mengkombinasikan Frekuensi Bas rendah dari semua Kanal (termasuk Kanal LFE) dalam rekaman dan mengarahkannya ke Pengeras Suara yang sesuai. Untuk melakukan ini, pelanggan harus memberi tahu nomor, jenis (kecil atau besar), dan penempatan Pengeras Suara, dan apakah ada Subwoofer pada sistemnya. Lihat: LFE
* Pengeras Suara Aktif, Pengeras Suara yang memiliki Amplifier Daya built-in, sekurang-kurangnya pada satu Driver, biasanya Woofer atau Subwoofer. Pengeras Suara ini pun mungkin memiliki Amplifier untuk Driver Frekuensi menengah dan tinggi. Lihat: Menara Pendayaan
* Pengkalangan Tak Kentara, Penggunaan komponen terpisah seperti transistor, resistor, Kapasitor dan Dioda dalam sirkuit elektronik alih-alih IC's (Integrated Circuits) yang mana, komponen-komponen ini difabrikasi dalam ukuran mikroskopik pada chip silikon. Faktor performa dan ekonomi biasanya menentukan pilihan.
* Penjembatanan, Mengkombinasikan keluaran dua Kanal Penguatan untuk menyediakan satu Kanal yang lebih bertenaga. Perhatikan, bahwa Penjembatanan dapat menaikkan Impedansi beban minimum yang dapat digerakkan secara aman oleh Amplifier.
* Penolakan AM, Suatu spesifikasi yang menjelaskan sebaik apa tuner atau penala radio bisa mengabaikan perubahan dalam Amplitudo sinyal FM, seperti yang disebabkan oleh efek dan interferensi rambatan.
* Pentarafan Daya, Lihat: Daya.
* Perlindungan Magnetis, Desain Motor Pengeras Suara di mana jalaran Medan magnetis ditekan untuk menghindarkan Distorsi pada CRT atau Kepekaan magnetis lainnya pada tampilan video.
* Perlindungan Video, Lihat Pengeras Suara Berpelindung
* Piksel, lemen terkecil dalam gambar. Setiap bintik dalam gambar yang terdiri atas sejumlah bintik, seperti dalam semua sistem video Digital.
* Preamplifier, Komponen audio yang memilih sumber sinyal dan menyediakan fungsi kompensasi Volume serta nada. Mungkin ada tahap Penguatan khusus untuk masukan kartrid fono. Penguatan ini memiliki keluaran Tingkat Saluran untuk menggerakkan Amplifier Daya. Biasanya, piranti stereo, ekuivalen multi-kanalnya yaitu Prosesor Sekeliling.
* Rasio Aspek, Perbandingan lebar-tinggi gambar visual. Pesawat televisi NTSC standar memilih Rasio Aspek 4:3 (4 unit lebar berbanding 3 unit tinggi). Pesawat televisi Layar lebar memiliki Rasio Aspek 16:9. Banyak film yang bahkan diproduksi dengan rasio yang lebih lebar. Gambar dengan Rasio Aspek yang berbeda dari tampilan, akan menunjukkan palang hitam di bagian atas dan bawah, atau di samping-sampingnya. Lihat: Layar lebar, NTSC.
* Resolusi, VIDEO: Dalam tampilan layar Digital, in adalah jumlah Piksel berikut lebar dan tinggi gambar. Dalam layar tampilan apa pun, ini adalah pengamatan kejernihan rincian dalam gambar. Ini bisa berbeda untuk benda yang tidak bergerak dan benda bergerak, dan Resolusi penafsiaran bisa lain dari yang ditentukan secara teknis. AUDIO: istilah bebas yang digunakan untuk menguraikan persepsi rincian kecil dalam musik. Lihat: Piksel
* Respons Frekuensi, Ukuran Amplitudo vs. performa Frekuensi komponen audio, diukur dari masukannya ke keluarannya. Piranti elektronik yang sempurna, selayaknya memiliki respons Frekuensi rata atau liner pada kisaran frekuensinya yang bermanfaat, yang menandakan bahwa piranti dapat mereproduksi semua Frekuensi pada tingkat yang tepat. Pengeras Suara lebih rumit, karena keluaran merupakan bunyi Suara yang dipancarkan ke semua arah. Yang penting adalah mengukur respons Frekuensi pada banyak lokasi di Sekeliling Pengeras Suara agar dapat memperkirakan, bagaimana bunyinya terdengar di dalam ruangan. Untuk Pengeras Suara, tidak ada ukuran respons Frekuensi tunggal yang secara lengkap menguraikan performanya. Lihat: Fungsi Transfer, Spektrum.
* Seberangan (Cross Over), Filter listrik yang mengarahkan Frekuensi yang sesuai ke Woofer, kisaran menengah, Tweeter, dsb., dalam sistem Pengeras Suara. Frekuensi Seberangan adalah Frekuensi di mana Driver Pengeras Suara dimatikan (misalnya, woofer) dan memiliki tingkat bunyi Suara yang sama seperti pada Driver Pengeras Suara yang dihidupkan (misalnya, tweeter).
* Seberangan Aktif (Cross Over Active), Piranti Analog atau Digital melakukan fungsi high-pass [lulus-atas], low-pass [lulus-bawah] dan bandpass [lulus-jalur] terlebih dulu dari Amplifier Daya yang menggerakan transduser/pengalih dalam Pengeras Suara.
* Sinyal Audio, Sinyal Frekuensi audio dalam bentuk elektronik atau sesudah diubah menjadi Suara.
* Televisi Definisi Tinggi, Suatu sistem video yang sekitar dua kali lebih besar dari Resolusi horizontal dan vertikal televisi NTSC konvensional dan ditampilkan dalam perbandingan aspek 16:9. Lihat: NTSC, Perbandingan Aspek, Resolusi
* Tuner (Radio/Penala), Piranti yang menala, atau memilih, stasiun radio atau televisi dari sinyal siaran yang diterima pada antena terestrial, melalui kabel atau satelit.
* Umpan Balik, Dalam Amplifier: kebiasaan menghubungkan (mengumpan balik) sebagian sinyal keluaran ke sinyal masukan agar dapat dibandingkan ke sinyal masukan dan kesalahan diperbaiki. Sinyal harus terbalik (umpan balik negatif) untuk mencegah osilasi/guncangan, atau gaungan yang sangat nyaring dan tidak terkendali (umpan balik positif). Umpan-balk positif kadang-kadang dialami pada sistem Pengeras Suara di muka umum yang mengeluarkan bunyi denging atau Gaung apabila terlalu banyak bunyi Suara kuat yang tertangkap oleh mikrofon.
* Video Komponen, Sinyal video terdiri atas tiga komponen: merah/hijau/biru (RGB) atau metode Perbedaan Warna yang memiliki satu dari beberapa nama berikut: Y,U,V atau Y, Pb, Pr atau Y, B-Y, R-Y. Yang disebut terakhir adalah metode penyimpanan video pada DVD dan koneksi komponen adalah pilihan cara untuk mengkomunikasikan informasi video ke layar tampilan. Kabel hijau, biru dan merah dapat diputus dalam salah astu steker, RCA atau BNC. Lihat: Chrominance [Krominansi], Luminance [Luminansi], RCA, S-Video, BNC.
* Video Komposit, Sinyal video di mana sinyal Krominansi dan Luminansi dipadukan berikut siknronisasi sinyal. Ini biasanya menggunakan kabel, tampak seperti kabel audio kuning berikut konektor RCA. Ini adalah bentuk video paling mendasar yang bisa ditemukan pada nyaris semua TV, VCR, dsb. Lihat: Krominansi, Luminansi, RCA, S-Video, Video Komponen.
* Video MPEG, MPEG-1 adalah algoritma Kompresi data untuk video kualitas rendah, seperti CD Video. MPEG-2 digunakan untuk DVD dan HDTV. Lihat:
* Volt, Lihat Voltase
* Voltase, Perbedaan potensi listrik diukur dalam Volt.
* Volume, Audio: bisa diartikan, Kenyaringan Suara dan kontrol yang memungkinkan kita meragamkannya. Pengeras suara: Ukuran kubik ruang dalam selubung Pengeras Suara.
* Watt, Unit Dasar untuk Daya listrik atau Akustik. Lihat: Daya
* Wattage, Besarnya Daya listrik dinyatakan dalam Watt. Lihat: Daya
Jenis-jenis Amplifier
Transistor merupakan komponen yang dapat menguatkan arus. Dengan kemampuan ini, transistor dapat dimanfaatkan dalam dua moda, yaitu moda nonlinier dan moda linier. Moda nonlinier contohnya adalah pemanfaatan transistor sebagai saklar elektronik, sedangkan moda linier adalah transistor sebagai penguat (amplifier).
AmplifierAmplifier
Dalam penerapannya sebagai amplifier, terdapat beberapa jenis konfigurasi amplifier. Dalam halaman ini, akan dibahas tiga buah konfigurasi amplifier, yaitu amplifier kelas A, Kelas B dan kelas AB. Kelas dari amplifier ini dibedakan berdasarkan letak titik beban dari kerja transistor. Titik beban ini berada dalam garis beban seperti yang terlihat dalam Gambar 2, dengan menganggap rangkaian transistornya adalah dalam konfigurasi common emitter (seperti dalam Gambar 1).
Gambar 1. Rangkaian common emitter.
Gambar 1. Rangkaian common emitter.
dari Gambar 1, dapat diturunkan persamaan tegangan VCC yaitu:
Gambar 2. Garis beban transistor.
Gambar 2. Garis beban transistor.
Transistor pada rangkaian di Gambar 1, akan memiliki titik kerja di antara titik A dan B, sepanjang garis beban. Titik A adalah daerah kerja ketika transistor mengalami kejenuhan, sedangkan titik B adalah ketika transistor cut-off.
Amplifier Kelas A
Titik beban transistor pada penguat kelas A diletakkan di antara titik A dan B, biasanya untuk menghasilkan kinerja yang baik maka titik beban diletakkan tepat di tengah-tengah garis beban. Hal ini memiliki maksud agar sinyal keluaran akan memiliki bentuk sinyal yang simetri antara siklus negatif dan positif. Supaya diperoleh titik beban yang tepat ditengah, maka VCE dirancang supaya sama besar dengan VCC/2. Untuk menghasilkan ini, maka IB dirancang supaya menghasilkan ICRC sama dengan VCC/2. Penguat kelas A dapat diwujudkan dengan rangkaian seperti Gambar 3 berikut.
Gambar 3. Penguat kelas A.
Gambar 3. Penguat kelas A.
Penguat kelas A dirancang untuk menguatkan sinyal-sinyal kecil. Sedangkan kekurangan dari penguat jenis ini adalah ketika tidak ada sinyal masukan, maka transistor akan tetap mengkonsumsi arus listrik.
Amplifier Kelas B
Penguat ini diwujudkan dengan merangkai sepasang transistor komplemen seperti pada Gambar 4. Berbeda dengan penguat kelas A, titik beban transistor penguat kelas B diletakkan pad titik B (titik cut-off). Dengan kondisi seperti ini, maka ketika tidak ada sinyal masukan, maka transistor tidak mengkonsumsi arus listrik. Penguat jenis ini dikenal juga sebagai penguat push-pull karena kerja dari pasangan transistor adalah bergantian. Penguat ini diterapkan sebagai penguat akhir, atau penguat sinyal besar.
Gambar 4. Penguat kelas B (push-pull).
Gambar 4. Penguat kelas B (push-pull).
Ketika Vin berada dalam fasa positif maka hanya transistor NPN yang ON, sedangkan ketika sinyal Vin berada dalam fasa negatif maka hanya transistor PNP yang ON. Akan tetapi karena bias tegangan transistor berasal dari sinyal Vin, maka sinyal ini akan terpotong oleh tegangan VBE, sehingga sinyal keluarannya akan mengalami kecacatan (distorsi).
Amplifier Kelas AB
Untuk mengatasi permasalahan distorsi pada penguat kelas B, maka dibuatlah penguat kelas AB. Penguat ini memiliki titik beban yang berada sedikit di atas titik B (Gambar 2), yaitu transistor dalam kondisi dibias dengan tegangan ambang sebesar VBE. Dalam kondisi ini, maka dalam keadaan tanpa sinyal Vin, transistor tidak mengkonsumsi arus listrik. Sedangkan ketika Vin muncul maka sinyal ini tidak terpotong oleh tegangan VBE sehingga sinyal keluarannya tidak mengalami distorsi. Contoh dari penguat kelas AB adalah seperti pada Gambar 5.
Gambar 5. Penguat kelas AB.
Gambar 5. Penguat kelas AB.
AmplifierAmplifier
Dalam penerapannya sebagai amplifier, terdapat beberapa jenis konfigurasi amplifier. Dalam halaman ini, akan dibahas tiga buah konfigurasi amplifier, yaitu amplifier kelas A, Kelas B dan kelas AB. Kelas dari amplifier ini dibedakan berdasarkan letak titik beban dari kerja transistor. Titik beban ini berada dalam garis beban seperti yang terlihat dalam Gambar 2, dengan menganggap rangkaian transistornya adalah dalam konfigurasi common emitter (seperti dalam Gambar 1).
Gambar 1. Rangkaian common emitter.
Gambar 1. Rangkaian common emitter.
dari Gambar 1, dapat diturunkan persamaan tegangan VCC yaitu:
Gambar 2. Garis beban transistor.
Gambar 2. Garis beban transistor.
Transistor pada rangkaian di Gambar 1, akan memiliki titik kerja di antara titik A dan B, sepanjang garis beban. Titik A adalah daerah kerja ketika transistor mengalami kejenuhan, sedangkan titik B adalah ketika transistor cut-off.
Amplifier Kelas A
Titik beban transistor pada penguat kelas A diletakkan di antara titik A dan B, biasanya untuk menghasilkan kinerja yang baik maka titik beban diletakkan tepat di tengah-tengah garis beban. Hal ini memiliki maksud agar sinyal keluaran akan memiliki bentuk sinyal yang simetri antara siklus negatif dan positif. Supaya diperoleh titik beban yang tepat ditengah, maka VCE dirancang supaya sama besar dengan VCC/2. Untuk menghasilkan ini, maka IB dirancang supaya menghasilkan ICRC sama dengan VCC/2. Penguat kelas A dapat diwujudkan dengan rangkaian seperti Gambar 3 berikut.
Gambar 3. Penguat kelas A.
Gambar 3. Penguat kelas A.
Penguat kelas A dirancang untuk menguatkan sinyal-sinyal kecil. Sedangkan kekurangan dari penguat jenis ini adalah ketika tidak ada sinyal masukan, maka transistor akan tetap mengkonsumsi arus listrik.
Amplifier Kelas B
Penguat ini diwujudkan dengan merangkai sepasang transistor komplemen seperti pada Gambar 4. Berbeda dengan penguat kelas A, titik beban transistor penguat kelas B diletakkan pad titik B (titik cut-off). Dengan kondisi seperti ini, maka ketika tidak ada sinyal masukan, maka transistor tidak mengkonsumsi arus listrik. Penguat jenis ini dikenal juga sebagai penguat push-pull karena kerja dari pasangan transistor adalah bergantian. Penguat ini diterapkan sebagai penguat akhir, atau penguat sinyal besar.
Gambar 4. Penguat kelas B (push-pull).
Gambar 4. Penguat kelas B (push-pull).
Ketika Vin berada dalam fasa positif maka hanya transistor NPN yang ON, sedangkan ketika sinyal Vin berada dalam fasa negatif maka hanya transistor PNP yang ON. Akan tetapi karena bias tegangan transistor berasal dari sinyal Vin, maka sinyal ini akan terpotong oleh tegangan VBE, sehingga sinyal keluarannya akan mengalami kecacatan (distorsi).
Amplifier Kelas AB
Untuk mengatasi permasalahan distorsi pada penguat kelas B, maka dibuatlah penguat kelas AB. Penguat ini memiliki titik beban yang berada sedikit di atas titik B (Gambar 2), yaitu transistor dalam kondisi dibias dengan tegangan ambang sebesar VBE. Dalam kondisi ini, maka dalam keadaan tanpa sinyal Vin, transistor tidak mengkonsumsi arus listrik. Sedangkan ketika Vin muncul maka sinyal ini tidak terpotong oleh tegangan VBE sehingga sinyal keluarannya tidak mengalami distorsi. Contoh dari penguat kelas AB adalah seperti pada Gambar 5.
Gambar 5. Penguat kelas AB.
Gambar 5. Penguat kelas AB.
Teknologi Audio Surround
Zaman orang tua kita dulu masih muda, kebanyakan bioskop atau piranti audio di rumah masih menggunakan sistem mono, memiliki cuma satu saluran suara. Begitu mereka memasuki masa tua, sistem suara stereo mulai bisa dinikmati. Dalam waktu tak terlalu lama muncul sistem suara stereo yang lebih baik, dolby stereo.
Bersamaan dengan itu, penggemar film atau musik melalui piranti audio-video di rumah bisa menikmati tata suara sejenis, namun sedikit lebih canggih lagi, dolby surround. Kini telinga generasi kita makin dimanja lagi dengan sistem tata suara dolby digital.
Kualitas suara yang dihasilkan berkat teknologi sistem tata suara yang disebut terakhir itu sudah tentu sangat prima. Desis yang biasanya mengiringi suara rekaman kaset atau pita film layar tancep, tidak ditemui lagi di gedung bioskop modern. Tengok saja mutu suara yang dihasilkan compact disc (CD), laser disc (LD), video CD (VCD), digital video disc (DVD) pada perangkat home theater kita di rumah, yang semuanya menerapkan teknologi mutakhir itu dalam soal tata suara. Bahkan, ini keunggulan utamanya, kita seakan dibawa ke suasana sebenarnya ketika adegan film atau pertunjukan musik itu berlangsung.
Gelegar ekstra
Inovasi sistem suara film terbaru dari Dolby Laboratories yang dikomandani Ray M. Dolby itu kini telah menginjak generasi ketiga, yang oleh Dolby dinamai DD (dolby digital) AC-3 (AC = Audio Code, angka 3 = era generasi). DD AC-3 sebenarnya perbaikan dari dolby stereo yang masih menggunakan sinyal analog. Setelah teknologi digital diadopsi, telinga kita sempat dimanjakan dengan dolby surround digital (DSD), sistem suara digital generasi sebelum DD AC-3.
DD pertama kali diperkenalkan pada 1992 melalui film Batman Return, yang kemudian diikuti oleh sekitar 150 film lainnya. Termasuk di antaranya Batman Forever, Pochahontas, Congo, Die Hard with a Vengeance, dan Mortal Combat. Kini, sekitar 2.000 gedung bioskop di dunia sudah melengkapi diri dengan perangkat sistem dolby digital.
DD AC-3 berisi saluran 5.1 yang sangat jernih, yakni 5 saluran tingkat nada penuh yang terpisah: kiri dan kanan depan, tengah, serta surround kiri dan kanan; plus sebuah subwoofer. Saluran kiri, tengah, dan kanan di belakang layar berfungsi menyajikan paparan dialog yang jernih dan tepat. Saluran surround kiri dan kanan yang terpisah mampu menenggelamkan penonton ke dalam film dengan suara yang hidup. Saluran surround ini dalam DSD masih menyatu atau mono. Sedangkan saluran efek bas (subwoofer) menghadirkan dentuman ekstra untuk rangkaian efek khusus berfrekuensi rendah.
Soundtrack DD secara optis disandikan tepat pada filmstrip (rentetan foto pada film) 35 mm, pada ruangan antara lubang sprocket (gigi jentera). Menempatkan soundtrack langsung pada film memungkinkannya berdampingan dengan trek analog tanpa menambah media lain macam CD. Ini tidak cuma membuat distributor film dan pemilik gedung bioskop mudah menanganinya, tapi juga memungkinkan rekaman DD bisa diwujudkan tanpa biaya tambahan. Lubang gigi jentera itu juga tahan tarikan dan robekan, sehingga soundtrack pada DD akan tetap bebas dari letupan dan desis selama masa pakainya.
Suara dolby digital tidak cuma bisa dinikmati di gedung bioskop. Perangkat laser disc bersistem penyandian audio digital Dolby AC-3 yang sama juga bisa menampilkan suara surround digital untuk bioskop rumah. Format masa depan yang bakal menggunakan audio AC-3 termasuk DVD dan High Definition Television(HDTV).
Sebelum sampai pada teknologi digital, format-format suara dolby sebelumnya menggunakan sinyal analog. Di antaranya, dolby stereo untuk bioskop dan dolby surround untuk penggunaan di rumah.
Empat saluran suara
Teknologi dolby stereo merupakan penyempurnaan dari sistem suara stereo yang banyak kekurangannya. Melalui sistem stereo, sebenarnya kita mendengar dua rekaman suara. Salah satu rekaman mungkin sedikit terlambat didengar dibandingkan dengan yang lain, atau yang satu lebih keras dari yang lain. Dua efek ini terjadi bila ada perbedaan jarak antara kita dengan kedua pengeras suara. Untuk mendapatkan citra suara yang sama, kita mesti berada pada jarak yang sama dari kedua pengeras suara. Citra suara menjadi tidak seimbang kalau kita bergeser lebih dekat ke salah satu speaker.
Kelemahan lain, sistem stereo juga mengandung ketidaksepadanan kecepatan dan tekanan suara. Dua tekanan dari pengeras-pengeras suara akan bertambah sebagai suatu skala. Sedangkan dua kecepatan akan bertambah sebagai suatu vektor. Akibatnya, terdapat ketidaksepadanan antara tekanan dan kecepatan dari suara hasil reproduksi dan suara asli.
Keterbatasan sistem stereo lainnya adalah suara hanya datang dari arah pengeras suara. Akibatnya, suara yang mestinya datang dari tengah muncul atau terdengar di tempat lain. Reproduksi suara yang tidak tepat itu terjadi, misalnya, ketika suatu plane wave (gelombang pesawat terbang) berada tepat di depan pendengar.
Dolby Laboratories berusaha memecahkan masalah-masalah tadi dengan menambahkan sejumlah saluran suara. Maka stereo ala Dolby atau dolby stereo menyediakan empat saluran suara: kiri, kanan, tengah, dan belakang. Saluran suara tengah dan belakang inilah yang membedakan dolby stereo dengan stereo biasa.
Untuk menampilkannya diperlukan lima pengeras suara: dua di kiri dan kanan depan, satu di tengah depan, dan sepasang di belakang pendengar. Pengeras suara tengah menghadirkan dengan baik citra suara frontal berupa dialog dan suara lain dari tengah. Sedangkan dua pengeras suara belakang disediakan untuk menghasilkan ambient sound effects (efek suara sekeliling). Efek-efek suara inilah yang tidak dijumpai dalam sistem suara stereo biasa.
Dolby stereo kemudian dikembangkan lagi oleh Dolby Laboratories untuk penggunaan di rumah, yang kemudian disebut dolby surround.
Sistem 4-2-4
Dolby stereo maupun dolby surround hanya menggunakan dua saluran untuk mengirimkan sinyal suaranya. Keempat sinyal suara dolby (kiri, kanan, tengah, surround) disandikan ke dalam dua saluran itu untuk pengiriman (siaran) dan penyimpanan dalam media seperti pita film, kaset video, (video) CD atau laser disc. Untuk film bioskop sinyal suara itu disimpan dalam bentuk sandi pada dua trek stereo standar pada film 35 mm.
Metode itu dikembangkan dari sistem quadraphonic yang menyandikan empat sinyal menjadi saluran suara kiri dan kanan. Dolby juga menyandikan empat sinyal dalam dua saluran, tetapi dua sinyal tambahan yang disandikan digunakan dengan cara lebih baik ketimbang pada quadraphonic. Oleh sebuah decoder (alat pembaca sandi), sandi suara pada dua trek tadi dibaca dan kemudian disesuaikan menurut fungsi dan tempat mereka di empat saluran. Ini disebut sistem 4-2-4.
Untuk menikmati suara dari sistem dolby stereo atau dolby surround diperlukan dua pengeras suara, masing-masing satu pada setiap sisi layar, satu pengeras suara tengah di atas atau belakang layar, dan pengeras suara surround di sembarang tempat di belakang area mendengar, baik di belakang atau sepanjang sisi belakang yang paling tepat.
Untuk piranti di rumah biasanya cukup dengan dua pengeras suara surround. Sedangkan di gedung bioskop perlu satu rangkaian pengeras suara surround yang ditaruh di sepanjang sisi ruangan, belakang ruangan, atau kedua-duanya. Bila tanpa pengeras suara tengah, dua pengeras suara depan akan menghasilkan suatu phantom image (citra suara hantu) yang sangat tidak sesuai dengan gambar layar. Namun pro logic decoder bisa memperbaiki situasi ini. Ia dapat membaca sandi saluran tengah secara langsung dan juga mengendalikan citranya, sehingga bisa memperbaiki suara tengah yang dihasilkan.
Tampilan saluran belakang sistem suara ini ditunda sekitar seperlima detik. Penundaan ini akan menyebarkan beberapa citra suara di belakang dengan memberi kesempatan suara dari speaker depan tiba lebih dulu, dan suara dari speaker belakang tiba sebelum suara-suara itu dirasakan sebagai suatu echo (gema).
Sinyal disandikan
Dalam sistem suara dolby stereo dan dolby surround terdapat dua proses utama, yakni encoding (penyandian) dan decoding (pembacaan isi sandi). Sinyal suara dolby stereo dan dolby surround yang terdiri atas empat sinyal terpisah (kiri, kanan, tengah, dan surround) disandikan dalam dua saluran: kiri-total dan kanan-total. Dua saluran inilah yang ditransmisikan atau disimpan dalam media distribusi (pita film, kaset video, video CD, atau laser disc). Dengan hanya memiliki dua saluran, sistem dolby tetap cocok untuk sistem mono dan stereo.
Penyandian empat saluran menjadi dua dikerjakan oleh alat encoder (penyandi) dolby. Saluran kanan dan kiri dilewatkan langsung melalui penyandi tanpa masing-masing diubah menjadi sinyal kiri-total dan kanan-total. Saluran tengahnya akan mengalami reduksi 3 dB (desibel) untuk mempertahankan kekuatan tetap, lalu dipecah menjadi saluran kiri-total dan kanan-total. Sinyal surround mengalami pemrosesan paling banyak. Yakni reduksi 3 dB untuk mempertahankan kekuatan tetap, dilewatkan filter bandpass untuk membatasi responsnya menjadi antara 100 Hz dan 7 kHz, mengalami reduksi (pengurangan) desis bentuk Dolby B yang telah dimodifikasi.
Lalu, sinyal dijadikan dua versi, yang satu memiliki perubahan tingkat +90o (+90o phase shift), sementara yang lain mengalami perubahan tingkat -90o. Ini menghasilkan suatu perubahan tingkat 180o antara dua sinyal itu. Yang mengalami perubahan tingkat +90o dijadikan sinyal kiri-total, sementara perubahan tingkat -90o dijadikan sinyal kanan-total.
Dengan melakukan perubahan tingkat untuk sinyal surround, dua sinyal surround dalam kiri-total dan kanan-total akan disalurkan untuk saluran tengah atau selama dimainkan secara mono. Sinyal surround yang direproduksi itu juga tidak akan memiliki saluran tengah, seperti terbuang begitu perbedaan kiri-total dan kanan-total muncul. Ini juga menambah pemisahan empat sinyal tersebut.
Pembacaan isi sandi sinyal suara tadi dilakukan dengan cara terbalik dengan penyandian. Sinyal kiri-total dan kanan-total masing-masing disalurkan ke pengeras suara kiri dan kanan. Informasi saluran tengah dan surround akan muncul, tapi dengan kekuatan 3 dB lebih rendah dari saluran kiri dan kanan.
Informasi surround juga akan kehilangan tingkat (phase), yang akan menyebarkan citranya di dalam ruangan. Informasi saluran tengah akan membentuk suatu citra suara hantu di tengah bila tidak ada pengeras suara tengah. Saluran surround sebelum terdengar dari pengeras suara surround akan melewati filter anti-alias, mengalami penundaan waktu 15 – 20 milidetik, melewati filter low-pass 7 kHz, dan mengalami pembacaan sandi reduksi desis Dolby B. Akhirnya, sinyal disalurkan pengeras suara. Dari pengeras suara inilah kita bisa mendengarnya dengan baik.
Bersamaan dengan itu, penggemar film atau musik melalui piranti audio-video di rumah bisa menikmati tata suara sejenis, namun sedikit lebih canggih lagi, dolby surround. Kini telinga generasi kita makin dimanja lagi dengan sistem tata suara dolby digital.
Kualitas suara yang dihasilkan berkat teknologi sistem tata suara yang disebut terakhir itu sudah tentu sangat prima. Desis yang biasanya mengiringi suara rekaman kaset atau pita film layar tancep, tidak ditemui lagi di gedung bioskop modern. Tengok saja mutu suara yang dihasilkan compact disc (CD), laser disc (LD), video CD (VCD), digital video disc (DVD) pada perangkat home theater kita di rumah, yang semuanya menerapkan teknologi mutakhir itu dalam soal tata suara. Bahkan, ini keunggulan utamanya, kita seakan dibawa ke suasana sebenarnya ketika adegan film atau pertunjukan musik itu berlangsung.
Gelegar ekstra
Inovasi sistem suara film terbaru dari Dolby Laboratories yang dikomandani Ray M. Dolby itu kini telah menginjak generasi ketiga, yang oleh Dolby dinamai DD (dolby digital) AC-3 (AC = Audio Code, angka 3 = era generasi). DD AC-3 sebenarnya perbaikan dari dolby stereo yang masih menggunakan sinyal analog. Setelah teknologi digital diadopsi, telinga kita sempat dimanjakan dengan dolby surround digital (DSD), sistem suara digital generasi sebelum DD AC-3.
DD pertama kali diperkenalkan pada 1992 melalui film Batman Return, yang kemudian diikuti oleh sekitar 150 film lainnya. Termasuk di antaranya Batman Forever, Pochahontas, Congo, Die Hard with a Vengeance, dan Mortal Combat. Kini, sekitar 2.000 gedung bioskop di dunia sudah melengkapi diri dengan perangkat sistem dolby digital.
DD AC-3 berisi saluran 5.1 yang sangat jernih, yakni 5 saluran tingkat nada penuh yang terpisah: kiri dan kanan depan, tengah, serta surround kiri dan kanan; plus sebuah subwoofer. Saluran kiri, tengah, dan kanan di belakang layar berfungsi menyajikan paparan dialog yang jernih dan tepat. Saluran surround kiri dan kanan yang terpisah mampu menenggelamkan penonton ke dalam film dengan suara yang hidup. Saluran surround ini dalam DSD masih menyatu atau mono. Sedangkan saluran efek bas (subwoofer) menghadirkan dentuman ekstra untuk rangkaian efek khusus berfrekuensi rendah.
Soundtrack DD secara optis disandikan tepat pada filmstrip (rentetan foto pada film) 35 mm, pada ruangan antara lubang sprocket (gigi jentera). Menempatkan soundtrack langsung pada film memungkinkannya berdampingan dengan trek analog tanpa menambah media lain macam CD. Ini tidak cuma membuat distributor film dan pemilik gedung bioskop mudah menanganinya, tapi juga memungkinkan rekaman DD bisa diwujudkan tanpa biaya tambahan. Lubang gigi jentera itu juga tahan tarikan dan robekan, sehingga soundtrack pada DD akan tetap bebas dari letupan dan desis selama masa pakainya.
Suara dolby digital tidak cuma bisa dinikmati di gedung bioskop. Perangkat laser disc bersistem penyandian audio digital Dolby AC-3 yang sama juga bisa menampilkan suara surround digital untuk bioskop rumah. Format masa depan yang bakal menggunakan audio AC-3 termasuk DVD dan High Definition Television(HDTV).
Sebelum sampai pada teknologi digital, format-format suara dolby sebelumnya menggunakan sinyal analog. Di antaranya, dolby stereo untuk bioskop dan dolby surround untuk penggunaan di rumah.
Empat saluran suara
Teknologi dolby stereo merupakan penyempurnaan dari sistem suara stereo yang banyak kekurangannya. Melalui sistem stereo, sebenarnya kita mendengar dua rekaman suara. Salah satu rekaman mungkin sedikit terlambat didengar dibandingkan dengan yang lain, atau yang satu lebih keras dari yang lain. Dua efek ini terjadi bila ada perbedaan jarak antara kita dengan kedua pengeras suara. Untuk mendapatkan citra suara yang sama, kita mesti berada pada jarak yang sama dari kedua pengeras suara. Citra suara menjadi tidak seimbang kalau kita bergeser lebih dekat ke salah satu speaker.
Kelemahan lain, sistem stereo juga mengandung ketidaksepadanan kecepatan dan tekanan suara. Dua tekanan dari pengeras-pengeras suara akan bertambah sebagai suatu skala. Sedangkan dua kecepatan akan bertambah sebagai suatu vektor. Akibatnya, terdapat ketidaksepadanan antara tekanan dan kecepatan dari suara hasil reproduksi dan suara asli.
Keterbatasan sistem stereo lainnya adalah suara hanya datang dari arah pengeras suara. Akibatnya, suara yang mestinya datang dari tengah muncul atau terdengar di tempat lain. Reproduksi suara yang tidak tepat itu terjadi, misalnya, ketika suatu plane wave (gelombang pesawat terbang) berada tepat di depan pendengar.
Dolby Laboratories berusaha memecahkan masalah-masalah tadi dengan menambahkan sejumlah saluran suara. Maka stereo ala Dolby atau dolby stereo menyediakan empat saluran suara: kiri, kanan, tengah, dan belakang. Saluran suara tengah dan belakang inilah yang membedakan dolby stereo dengan stereo biasa.
Untuk menampilkannya diperlukan lima pengeras suara: dua di kiri dan kanan depan, satu di tengah depan, dan sepasang di belakang pendengar. Pengeras suara tengah menghadirkan dengan baik citra suara frontal berupa dialog dan suara lain dari tengah. Sedangkan dua pengeras suara belakang disediakan untuk menghasilkan ambient sound effects (efek suara sekeliling). Efek-efek suara inilah yang tidak dijumpai dalam sistem suara stereo biasa.
Dolby stereo kemudian dikembangkan lagi oleh Dolby Laboratories untuk penggunaan di rumah, yang kemudian disebut dolby surround.
Sistem 4-2-4
Dolby stereo maupun dolby surround hanya menggunakan dua saluran untuk mengirimkan sinyal suaranya. Keempat sinyal suara dolby (kiri, kanan, tengah, surround) disandikan ke dalam dua saluran itu untuk pengiriman (siaran) dan penyimpanan dalam media seperti pita film, kaset video, (video) CD atau laser disc. Untuk film bioskop sinyal suara itu disimpan dalam bentuk sandi pada dua trek stereo standar pada film 35 mm.
Metode itu dikembangkan dari sistem quadraphonic yang menyandikan empat sinyal menjadi saluran suara kiri dan kanan. Dolby juga menyandikan empat sinyal dalam dua saluran, tetapi dua sinyal tambahan yang disandikan digunakan dengan cara lebih baik ketimbang pada quadraphonic. Oleh sebuah decoder (alat pembaca sandi), sandi suara pada dua trek tadi dibaca dan kemudian disesuaikan menurut fungsi dan tempat mereka di empat saluran. Ini disebut sistem 4-2-4.
Untuk menikmati suara dari sistem dolby stereo atau dolby surround diperlukan dua pengeras suara, masing-masing satu pada setiap sisi layar, satu pengeras suara tengah di atas atau belakang layar, dan pengeras suara surround di sembarang tempat di belakang area mendengar, baik di belakang atau sepanjang sisi belakang yang paling tepat.
Untuk piranti di rumah biasanya cukup dengan dua pengeras suara surround. Sedangkan di gedung bioskop perlu satu rangkaian pengeras suara surround yang ditaruh di sepanjang sisi ruangan, belakang ruangan, atau kedua-duanya. Bila tanpa pengeras suara tengah, dua pengeras suara depan akan menghasilkan suatu phantom image (citra suara hantu) yang sangat tidak sesuai dengan gambar layar. Namun pro logic decoder bisa memperbaiki situasi ini. Ia dapat membaca sandi saluran tengah secara langsung dan juga mengendalikan citranya, sehingga bisa memperbaiki suara tengah yang dihasilkan.
Tampilan saluran belakang sistem suara ini ditunda sekitar seperlima detik. Penundaan ini akan menyebarkan beberapa citra suara di belakang dengan memberi kesempatan suara dari speaker depan tiba lebih dulu, dan suara dari speaker belakang tiba sebelum suara-suara itu dirasakan sebagai suatu echo (gema).
Sinyal disandikan
Dalam sistem suara dolby stereo dan dolby surround terdapat dua proses utama, yakni encoding (penyandian) dan decoding (pembacaan isi sandi). Sinyal suara dolby stereo dan dolby surround yang terdiri atas empat sinyal terpisah (kiri, kanan, tengah, dan surround) disandikan dalam dua saluran: kiri-total dan kanan-total. Dua saluran inilah yang ditransmisikan atau disimpan dalam media distribusi (pita film, kaset video, video CD, atau laser disc). Dengan hanya memiliki dua saluran, sistem dolby tetap cocok untuk sistem mono dan stereo.
Penyandian empat saluran menjadi dua dikerjakan oleh alat encoder (penyandi) dolby. Saluran kanan dan kiri dilewatkan langsung melalui penyandi tanpa masing-masing diubah menjadi sinyal kiri-total dan kanan-total. Saluran tengahnya akan mengalami reduksi 3 dB (desibel) untuk mempertahankan kekuatan tetap, lalu dipecah menjadi saluran kiri-total dan kanan-total. Sinyal surround mengalami pemrosesan paling banyak. Yakni reduksi 3 dB untuk mempertahankan kekuatan tetap, dilewatkan filter bandpass untuk membatasi responsnya menjadi antara 100 Hz dan 7 kHz, mengalami reduksi (pengurangan) desis bentuk Dolby B yang telah dimodifikasi.
Lalu, sinyal dijadikan dua versi, yang satu memiliki perubahan tingkat +90o (+90o phase shift), sementara yang lain mengalami perubahan tingkat -90o. Ini menghasilkan suatu perubahan tingkat 180o antara dua sinyal itu. Yang mengalami perubahan tingkat +90o dijadikan sinyal kiri-total, sementara perubahan tingkat -90o dijadikan sinyal kanan-total.
Dengan melakukan perubahan tingkat untuk sinyal surround, dua sinyal surround dalam kiri-total dan kanan-total akan disalurkan untuk saluran tengah atau selama dimainkan secara mono. Sinyal surround yang direproduksi itu juga tidak akan memiliki saluran tengah, seperti terbuang begitu perbedaan kiri-total dan kanan-total muncul. Ini juga menambah pemisahan empat sinyal tersebut.
Pembacaan isi sandi sinyal suara tadi dilakukan dengan cara terbalik dengan penyandian. Sinyal kiri-total dan kanan-total masing-masing disalurkan ke pengeras suara kiri dan kanan. Informasi saluran tengah dan surround akan muncul, tapi dengan kekuatan 3 dB lebih rendah dari saluran kiri dan kanan.
Informasi surround juga akan kehilangan tingkat (phase), yang akan menyebarkan citranya di dalam ruangan. Informasi saluran tengah akan membentuk suatu citra suara hantu di tengah bila tidak ada pengeras suara tengah. Saluran surround sebelum terdengar dari pengeras suara surround akan melewati filter anti-alias, mengalami penundaan waktu 15 – 20 milidetik, melewati filter low-pass 7 kHz, dan mengalami pembacaan sandi reduksi desis Dolby B. Akhirnya, sinyal disalurkan pengeras suara. Dari pengeras suara inilah kita bisa mendengarnya dengan baik.
Format Audio Surround - Dolby, DTX dan THX
Dolby Digital pertama kali memasuki pasar dengan di rilisnya film Batman Return tahun 1992. Pada tahun-tahun awal ini pesaing utama Dolby Digital adalah Kodak CDS (Cinema Digital Sound) yang ternyata telah lebih dahulu beredar dipasar dari tahun 1990 – 1992 dengan 9 judul film, termasuk diantaranya adalah film Terminator 2. Namun akhirnya sistem CDS tidak digunakan lagi sejak Universal Studio mengadopsi Dolby Digital secara luas. Sampai akhirnya pada tahun 1993, DTS (Digital Theater System) dan SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) diperkenalkan lewat film Jurasic Park dan Last Action Hero. Perlahan-lahan format DTS kemudian banyak di adopsi oleh film-film box-office. Sejak itu dominasi Dolby yang telah puluhan tahun diramaikan dengan persaingan format DTS dan berlomba menjadi sistem audio surround yang terbaik. Belakangan sistem surround tidak saja hanya untuk konsumsi film theater, tetapi kemudian meluas diadopsi oleh sistim audio/video konsumen rumah seperti DVD/Home Theater. Tulisan berikut ini mencoba untuk merangkum beberapa standar sistem surround yang kerap dijumpai di pasar. Ada beberapa logo yang kerap tertera pada cover Radio Tape, VCR, DVD, DVD player, video game dan beberapa sistem audio video yang terintegrasi dalam home theater. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari logo-logo tersebut. Dolby Pro Logic
Tahun 1982 Dolby Laboratries Inc. mulai memberikan lisensi yang membolehkan sistem audio surround untuk konsumsi perangkat rumah seperti perangkat VCR VHS/Beta. Dolby Surround merupakan trade mark yang menunjukkan bahwa sistem audio dari rekaman audio/video tersebut telah mengadopsi sistem ini. Dolby Surrond adalah standar format rekaman audio yang meng-encode 4 kanal suara (terdiri dari left, right, center dan surround) menjadi 2 kanal stereo. Seiring dengan itu, sistem Dolby Pro Logic adalah decoder yang di adopsi oleh banyak perangkat pemutar untuk men-decode 2 trek stereo tersebut menjadi empat kanal suara left, right, center dan surround. Tanpa decoder, format Dolby Surround yang terdengar adalah seperti kualitas stereo biasa. Walaupun kadang ada sistem yang dilengkapi dengan 5 speaker, namun 2 speaker surround-nya merupakan satu kanal surround mono.
Dolby Pro Logic II
Sistem ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Dolby Pro Logic (yang dikenal juga dengan Dolby Pro Logic I). Bedanya, sistem Dolby Pro Logic II dapat men-decode 5 kanal surround (left, right, center, left surround dan right surround) dari rekaman stereo. Lima kanal surround dapat di decode dari 2 kanal stereo apa saja dan tidak tergantung apakah rekaman ini telah di encode dengan format Dolby Surround apa tidak. Suara surround yang dihasilkan adalah suara surround stereo.
Dolby Digital 5.1
Pada tahun 1984 Dobly mengembangkan standard encoding digital kanal audio yang dinamakan format AC1 (audio coder 1). Format ini diadopsi oleh beberapa penyelengara broadcast tv satelite dan tv cable. Kemudian di kembangkan format AC2 dengan kualitas audio yang lebih baik. Seiring dengan perkembangan teknologi digital dan chip DSP, kemudian Dolby Laboratories mengembangkan Dolby AC3 di tahun 1992 yang menjadi cikal dari sistem surround Dolby Digital 5.1 atau disebut singkat dengan Dolby Digital (di singkat DD). Dahulu sistem ini disebut juga dengan Dolby SRD (Spectral Recording Digital). Konfigurasi 5.1 memiliki 6 kanal suara yang terpisah. Dinamakan demikian, sebab pada sistem audio ini ada terdapat 5 kanal utama ( right, center, left, right surround, left surround) dan satu kanal dengan notasi 0.1 yaitu kanal efect yang disebut LFE (Low Frequency Effect). Pada prakteknya kanal effect ini di realisasikan dengan sub-woofer, untuk mem-visualisasikan suara efek seperti suara bom, gemuruh gempa dan hentakan kaki dan sebagainya. Namun pengertian kanal LFE tidak mesti sama dengan sub-woofer, sebab LFE membawa informasi fraksi dari frekuensi-frekuensi rendah yang bisa saja dibagi ke speaker surround kanan dan kiri. Besar data rate digital pada sistem DD adalah 384 kbps sampai 448 kbps dengan sampling 48 KHz.
DTS Digital
Tahun 1992 merupakan tahun yang penting buat perkembangan sistem DTS. Saat itu mereka dapat meyakinkan Steven Spielberg melalui demonstrasi format ini yang dimainkan dari rekaman yang disimpan dalam hardisk. DTS kemudian diadopsi untuk film box office Jurasic Park. Sistem DTS Digital atau di singkat DTS juga memiliki 6 kanal suara dengan format 5.1. Sama seperti DD ada kanal LFE yang membawa frekuensi rendah 20 – 80 Hz. Standard rate datanya adalah 1.4 Mbps untuk CD/LD dan 1.5 Mbps untuk DVD dengan sampling 48 KHz dan resolusi 24 bits. Memang ukuran data DTS lebih besar atau standard ratio kompresinya (3.5 : 1 dibanding 12 : 1 pada DD) lebih tidak efisien dibandingkan DD, namun argumen yang dikemukan oleh DTS adalah semakin kecil ratio kompresi maka suara yang dihasilkan DTS akan lebih natural.
SDDS
Sistem SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) dari Sony ini memiliki 6 atau 8 kanal suara (right, left right center, center, left center, sub woofer, right surround dan left surround). Beberapa film layar lebar menggunakan format SDDS terutama film-film produksi Sony Entertainment. Reader dan decoder khusus untuk ini di tambahkan pada proyektor pemutar film. Format SDDS sampai saat ini secara eksklusif hanya ada untuk film bioskop saja dan belum di adopsi untuk konsumen rumah. Tentu saja hingga kini SDDS belum di-support oleh banyak pemutar DVD/ home theater.
THX
THX bukanlah suatu standard format rekaman suara, melainkan standard bagaimana sistem audio video yang baik dapat dihasilkan. THX merupakan lembaga sertifikasi kualitas performansi audio pada suatu ruangan. Lembaga ini digagas oleh Lucas Films dan nama THX diambil dari film Lucas pertama yang berjudul 'THX 1138'. Nama Tomlinson Holman yang kala itu selaku direktur teknik Lucas film, bersama timnya tahun 1980an adalah pionir yang menetapkan cikal dari standard THX saat ini.
Untuk sistem audio, sertifikasi lebih ditujukan pada desain tata ruang, isolasi, desain akustik, serta pemilihan dan penempatan sistem audio. Ada dua jenis sertifikasi, yang pertama dinamakan THX Ultra untuk ruangan sekelas cinepleks atau theater dan yang kedua THX Select untuk ruangan kecil seperti home theater. Sertifikasi ini tentu akan menambah biaya produksi dari satu film atau perangkat yang mendapat sertifikat. Namun pinsipnya ada harga tentu ada kualitas.
Penutup
Paparan ini terlepas dari pro dan kontra tentang mana sistem audio surround yang lebih baik. Format-format yang berbeda tentu memiliki karakteristik yang berlainan, serta menawarkan ruang bagi para sinemator berkreasi memvisualisasikan audio untuk mendukung cerita yang diinginkan. Kualitas suara dan efeknya yang sampai ke telinga penonton masih tergantung dari kualitas tata ruang, akustik dan lain sebagainya. Sejauh ini ada 4 format audio yang selalu ada dalam satu rekaman film diantaranya, DD, DTS dan SDDS dan Stereo Analog standard. Untuk film layar lebar informasi audio (salah satu atau ke-empatnya) di print di pinggir film seluloid tersebut. Terkadang ada dua judul film yang sama dibuat dengan rekaman audio yang berbeda. Tulisan di atas masih menyisakan pokok bahasan tentang format surround yang muktahir. Diantaranya adalah format 6.1 dan 7.1 dengan DD EX (Extended), DTS ES (Extended Surround) dan DTS 96-24. Bagi konsumen, perbedaan format-format tersebut menjadi pertimbangan untuk memiliki sistem yang saling kompatibel.
Tahun 1982 Dolby Laboratries Inc. mulai memberikan lisensi yang membolehkan sistem audio surround untuk konsumsi perangkat rumah seperti perangkat VCR VHS/Beta. Dolby Surround merupakan trade mark yang menunjukkan bahwa sistem audio dari rekaman audio/video tersebut telah mengadopsi sistem ini. Dolby Surrond adalah standar format rekaman audio yang meng-encode 4 kanal suara (terdiri dari left, right, center dan surround) menjadi 2 kanal stereo. Seiring dengan itu, sistem Dolby Pro Logic adalah decoder yang di adopsi oleh banyak perangkat pemutar untuk men-decode 2 trek stereo tersebut menjadi empat kanal suara left, right, center dan surround. Tanpa decoder, format Dolby Surround yang terdengar adalah seperti kualitas stereo biasa. Walaupun kadang ada sistem yang dilengkapi dengan 5 speaker, namun 2 speaker surround-nya merupakan satu kanal surround mono.
Dolby Pro Logic II
Sistem ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Dolby Pro Logic (yang dikenal juga dengan Dolby Pro Logic I). Bedanya, sistem Dolby Pro Logic II dapat men-decode 5 kanal surround (left, right, center, left surround dan right surround) dari rekaman stereo. Lima kanal surround dapat di decode dari 2 kanal stereo apa saja dan tidak tergantung apakah rekaman ini telah di encode dengan format Dolby Surround apa tidak. Suara surround yang dihasilkan adalah suara surround stereo.
Dolby Digital 5.1
Pada tahun 1984 Dobly mengembangkan standard encoding digital kanal audio yang dinamakan format AC1 (audio coder 1). Format ini diadopsi oleh beberapa penyelengara broadcast tv satelite dan tv cable. Kemudian di kembangkan format AC2 dengan kualitas audio yang lebih baik. Seiring dengan perkembangan teknologi digital dan chip DSP, kemudian Dolby Laboratories mengembangkan Dolby AC3 di tahun 1992 yang menjadi cikal dari sistem surround Dolby Digital 5.1 atau disebut singkat dengan Dolby Digital (di singkat DD). Dahulu sistem ini disebut juga dengan Dolby SRD (Spectral Recording Digital). Konfigurasi 5.1 memiliki 6 kanal suara yang terpisah. Dinamakan demikian, sebab pada sistem audio ini ada terdapat 5 kanal utama ( right, center, left, right surround, left surround) dan satu kanal dengan notasi 0.1 yaitu kanal efect yang disebut LFE (Low Frequency Effect). Pada prakteknya kanal effect ini di realisasikan dengan sub-woofer, untuk mem-visualisasikan suara efek seperti suara bom, gemuruh gempa dan hentakan kaki dan sebagainya. Namun pengertian kanal LFE tidak mesti sama dengan sub-woofer, sebab LFE membawa informasi fraksi dari frekuensi-frekuensi rendah yang bisa saja dibagi ke speaker surround kanan dan kiri. Besar data rate digital pada sistem DD adalah 384 kbps sampai 448 kbps dengan sampling 48 KHz.
DTS Digital
Tahun 1992 merupakan tahun yang penting buat perkembangan sistem DTS. Saat itu mereka dapat meyakinkan Steven Spielberg melalui demonstrasi format ini yang dimainkan dari rekaman yang disimpan dalam hardisk. DTS kemudian diadopsi untuk film box office Jurasic Park. Sistem DTS Digital atau di singkat DTS juga memiliki 6 kanal suara dengan format 5.1. Sama seperti DD ada kanal LFE yang membawa frekuensi rendah 20 – 80 Hz. Standard rate datanya adalah 1.4 Mbps untuk CD/LD dan 1.5 Mbps untuk DVD dengan sampling 48 KHz dan resolusi 24 bits. Memang ukuran data DTS lebih besar atau standard ratio kompresinya (3.5 : 1 dibanding 12 : 1 pada DD) lebih tidak efisien dibandingkan DD, namun argumen yang dikemukan oleh DTS adalah semakin kecil ratio kompresi maka suara yang dihasilkan DTS akan lebih natural.
SDDS
Sistem SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) dari Sony ini memiliki 6 atau 8 kanal suara (right, left right center, center, left center, sub woofer, right surround dan left surround). Beberapa film layar lebar menggunakan format SDDS terutama film-film produksi Sony Entertainment. Reader dan decoder khusus untuk ini di tambahkan pada proyektor pemutar film. Format SDDS sampai saat ini secara eksklusif hanya ada untuk film bioskop saja dan belum di adopsi untuk konsumen rumah. Tentu saja hingga kini SDDS belum di-support oleh banyak pemutar DVD/ home theater.
THX
THX bukanlah suatu standard format rekaman suara, melainkan standard bagaimana sistem audio video yang baik dapat dihasilkan. THX merupakan lembaga sertifikasi kualitas performansi audio pada suatu ruangan. Lembaga ini digagas oleh Lucas Films dan nama THX diambil dari film Lucas pertama yang berjudul 'THX 1138'. Nama Tomlinson Holman yang kala itu selaku direktur teknik Lucas film, bersama timnya tahun 1980an adalah pionir yang menetapkan cikal dari standard THX saat ini.
Untuk sistem audio, sertifikasi lebih ditujukan pada desain tata ruang, isolasi, desain akustik, serta pemilihan dan penempatan sistem audio. Ada dua jenis sertifikasi, yang pertama dinamakan THX Ultra untuk ruangan sekelas cinepleks atau theater dan yang kedua THX Select untuk ruangan kecil seperti home theater. Sertifikasi ini tentu akan menambah biaya produksi dari satu film atau perangkat yang mendapat sertifikat. Namun pinsipnya ada harga tentu ada kualitas.
Penutup
Paparan ini terlepas dari pro dan kontra tentang mana sistem audio surround yang lebih baik. Format-format yang berbeda tentu memiliki karakteristik yang berlainan, serta menawarkan ruang bagi para sinemator berkreasi memvisualisasikan audio untuk mendukung cerita yang diinginkan. Kualitas suara dan efeknya yang sampai ke telinga penonton masih tergantung dari kualitas tata ruang, akustik dan lain sebagainya. Sejauh ini ada 4 format audio yang selalu ada dalam satu rekaman film diantaranya, DD, DTS dan SDDS dan Stereo Analog standard. Untuk film layar lebar informasi audio (salah satu atau ke-empatnya) di print di pinggir film seluloid tersebut. Terkadang ada dua judul film yang sama dibuat dengan rekaman audio yang berbeda. Tulisan di atas masih menyisakan pokok bahasan tentang format surround yang muktahir. Diantaranya adalah format 6.1 dan 7.1 dengan DD EX (Extended), DTS ES (Extended Surround) dan DTS 96-24. Bagi konsumen, perbedaan format-format tersebut menjadi pertimbangan untuk memiliki sistem yang saling kompatibel.
instalasi home theater 5.1
AudioRakitan.com kali ini akan merakit kit Surround Processor yang dinamai Project Home Theatre 5.1. Angka 5.1 berarti 2 speaker front (depan), 2 speaker rear (belakang/surround), 1 speaker tengah depan (center) dan 1 subwoofer. Ini berarti bahwa total tata suara yang diproduksi sebanyak 6 speaker, dimana masing-masing speaker memiliki tugas sendiri-sendiri karena karakteristik yang berbeda.
Di dalam PCB Kit PCB Home Theater 5.1 telah disediakan surround processor, amplifier stereo untuk speaker rear, amplifier mono untuk speaker center, pre amp low pass filter untuk menghasilkan suara dengan nada rendah berkisar 75 hertz dan di dalam kit telah terpasang potensio untuk mengatur frekwensi sub woofer agar sesuai dengan speaker sub woofer yang anda miliki, terdapat pula potensio yang mengatur volume dari sub woofer.
Penguatan yang dihasilkan Home Theater 5.1 untuk amplifier front dan rear sekitar 40 watt (total sekitar 120 watt) sedangkan output front dan subwoofer masih berupa preamp, sehingga Anda harus menambahkan power amplifier stereo untuk diumpankan dengan output front dan power amplifier mono untuk diumpankan dengan output subwoofer. Khusus subwoofer sangat disarankan menggunakan amplifier dengan daya yang besar, lebih besar dari amplifier front, rear dan center. Amplifier khusu sub woofer paling tidak berkisar 150 sampai 250 watt agar diperoleh nada bas yang dalam dan nendang.
Adapun skema instalasi kit Home Theatre 5.1 adalah sebagai berikut:
home theatre surround 5.1
Rancangan skema dari Project Home Theater 5.1 antara lain sebagai berikut:
home theater
skema home theater
skema home theater 5.1
catu daya home theater 5.1
PCB terbuat dari bahan fiber yang lebih tahan panas, dimana jalur atau circuit skema berada pada dua sisi permukaan PCB atau lebih dikenal double layer, seperti tampak berikut ini:
Di dalam PCB Kit PCB Home Theater 5.1 telah disediakan surround processor, amplifier stereo untuk speaker rear, amplifier mono untuk speaker center, pre amp low pass filter untuk menghasilkan suara dengan nada rendah berkisar 75 hertz dan di dalam kit telah terpasang potensio untuk mengatur frekwensi sub woofer agar sesuai dengan speaker sub woofer yang anda miliki, terdapat pula potensio yang mengatur volume dari sub woofer.
Penguatan yang dihasilkan Home Theater 5.1 untuk amplifier front dan rear sekitar 40 watt (total sekitar 120 watt) sedangkan output front dan subwoofer masih berupa preamp, sehingga Anda harus menambahkan power amplifier stereo untuk diumpankan dengan output front dan power amplifier mono untuk diumpankan dengan output subwoofer. Khusus subwoofer sangat disarankan menggunakan amplifier dengan daya yang besar, lebih besar dari amplifier front, rear dan center. Amplifier khusu sub woofer paling tidak berkisar 150 sampai 250 watt agar diperoleh nada bas yang dalam dan nendang.
Adapun skema instalasi kit Home Theatre 5.1 adalah sebagai berikut:
home theatre surround 5.1
Rancangan skema dari Project Home Theater 5.1 antara lain sebagai berikut:
home theater
skema home theater
skema home theater 5.1
catu daya home theater 5.1
PCB terbuat dari bahan fiber yang lebih tahan panas, dimana jalur atau circuit skema berada pada dua sisi permukaan PCB atau lebih dikenal double layer, seperti tampak berikut ini:
Langganan:
Postingan (Atom)

